RADARBONANG.ID - Tata krama dalam masyarakat Jawa bukan sekadar aturan sopan santun, tetapi sudah menjadi identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.
Dalam kehidupan sehari-hari, tata krama menjadi pedoman tidak tertulis tentang bagaimana seseorang bersikap, berbicara, hingga menempatkan diri sesuai situasi dan lawan bicaranya.
Semua itu dilakukan untuk menjaga keharmonisan serta rasa saling menghormati.
Dasar Tata Krama Andhap Asor hingga Tepa Slira
Dalam budaya Jawa, terdapat tiga prinsip utama yang menjadi dasar tata krama.
Andhap asor yang berarti rendah hati, mengajarkan agar seseorang tidak meninggikan diri.
Ajining dhiri saka lathi, yang bermakna harga diri seseorang terlihat dari tutur katanya, menuntun masyarakat Jawa untuk selalu berkata baik dan santun.
Lalu ada tepa slira, yaitu kemampuan untuk berempati dan tahu diri dalam bersikap, agar tidak menyakiti atau merugikan orang lain.
Tingkatan Ngoko, Krama dan Krama Inggil
Tata krama bahasa dalam budaya Jawa juga memiliki tingkatan.
Ngoko digunakan saat berbicara santai dengan teman sebaya atau orang yang lebih muda.
Krama dipakai ketika berbicara dengan orang yang dihormati atau belum dikenal dekat.
Sementara krama inggil adalah tingkatan bahasa paling halus, biasanya digunakan kepada orang yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan dan kerendahan hati.
Tata Krama Gestur Tubuh
Tak hanya bahasa, tata krama dalam gestur tubuh juga sangat dijunjung.
Misalnya, ketika duduk di depan orang tua, seseorang tidak boleh selonjoran karena dianggap kurang sopan.
Saat berjalan di depan orang lain, tubuh sedikit dibungkukkan sambil mengucapkan permisi sebagai tanda hormat.
Meletakkan tangan di pinggang pun kerap dianggap sebagai sikap menantang.
Di zaman modern saat ini, banyak anak muda mulai melupakan tata krama yang berkembang di daerahnya.
Padahal, mempelajari dan menerapkannya tidak hanya menjaga keselarasan sosial, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan terhadap identitas budaya sendiri.
Budaya adalah jati diri bangsa, dan tanpa dijaga dengan baik, perlahan akan memudar. (*)
Editor : Amin Fauzie