Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Ponorogo dan Malang Resmi Jadi Kota Kreatif UNESCO 2025: Reog dan Dunia Digital Angkat Indonesia ke Panggung Dunia

Muhammad Azlan Syah • Minggu, 9 November 2025 | 17:10 WIB

Gapura pintu masuk kota ponorogo dengan monumen patung reog dan burung merak
Gapura pintu masuk kota ponorogo dengan monumen patung reog dan burung merak

RADARBONANG.ID – Kabar membanggakan datang dari dunia kebudayaan Indonesia.

Dua kota di Jawa Timur, Ponorogo dan Malang, resmi ditetapkan sebagai bagian dari UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2025, bergabung bersama 58 kota baru dari seluruh dunia yang diakui atas inovasi dan kontribusinya terhadap kreativitas global.

Dengan penetapan ini, Indonesia kini memiliki tujuh Kota Kreatif UNESCO, menegaskan posisinya sejajar dengan negara-negara besar lain di Asia dalam memajukan industri kreatif dan pelestarian budaya.

Baca Juga: MITOS ATAU FAKTA? Main HP Saat Hujan Petir Bisa Bikin Nyawa Melayang, Ini Penjelasan Ahli yang Bikin Merinding!

Ponorogo: Ketika Reog Menjadi Bahasa Dunia

Ponorogo dikenal luas sebagai tanah kelahiran Reog, salah satu kesenian rakyat paling ikonik di Indonesia.

Melalui penetapan ini, UNESCO mengakui Ponorogo di kategori Crafts and Folk Art atau Kriya dan Seni Rakyat — sebuah pengakuan atas kekayaan tradisi, keahlian tangan, dan ekspresi budaya yang terus hidup di masyarakat.

Di balik topeng singa barong dan gerakan penari jathil, Reog bukan sekadar pertunjukan, tetapi simbol identitas dan kebanggaan kolektif masyarakat Ponorogo.

Kesenian ini diwariskan lintas generasi, mengandung filosofi tentang keberanian, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap leluhur.

Selain Reog, Ponorogo juga dikenal dengan beragam kriya lokal seperti batik khas Ponorogo, kerajinan bambu, dan seni ukir.

Semua ini menjadi bagian dari ekosistem budaya yang hidup dan terus berkembang, menjadikan kota ini laboratorium kreatif yang memadukan tradisi dan inovasi.

Malang: Pusat Kreativitas Digital dan Media Arts

Sementara itu, Kota Malang berhasil menorehkan prestasi di kategori Media Arts. Pengakuan ini diberikan karena kemajuan pesat ekosistem digital di Malang, terutama dalam bidang gim, animasi, dan digital storytelling.

Kota yang dikenal dengan julukan “Paris of East Java” ini kini menjadi rumah bagi komunitas kreatif muda yang berkiprah di kancah nasional dan internasional.

Studio animasi lokal, startup gim, hingga para kreator digital independen tumbuh pesat di kota yang juga merupakan pusat pendidikan ini.

Dukungan dari perguruan tinggi seperti Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang turut memperkuat fondasi kolaborasi antara akademisi, pelaku industri, dan seniman digital.

Hal ini membuat Malang menjadi kota dengan ekosistem kreatif yang berkelanjutan dan inovatif.

Pengakuan UNESCO di bidang Media Arts juga menempatkan Malang dalam satu barisan dengan kota-kota dunia seperti Seoul, Toronto, dan Lyon yang telah lebih dulu diakui atas kontribusi digitalnya.

Tujuh Kota Kreatif Indonesia di Mata Dunia

Sebelum Ponorogo dan Malang, Indonesia telah memiliki lima kota yang lebih dulu bergabung dalam jaringan kota kreatif UNESCO, yaitu Pekalongan (Crafts and Folk Art), Bandung (Design), Ambon (Music), Jakarta (Literature), dan Surakarta (Performing Arts).

Kini, dengan tujuh kota yang mewakili berbagai bidang, Indonesia menunjukkan kekayaan spektrum kreativitas yang mencakup seni tradisi hingga teknologi modern.

Baca Juga: Segelas Jus Mangga Setiap Hari, Tubuh Auto Sehat dan Glowing! Tapi Hati-Hati, Jangan Salah Cara Membuatnya

UNESCO Creative Cities Network sendiri dibentuk pada 2004 untuk mendorong kerja sama antar kota di dunia yang menempatkan kreativitas dan kebudayaan sebagai pilar pembangunan berkelanjutan. Hingga 2025, jaringan ini telah mencakup lebih dari 350 kota dari 100 negara.

Kebanggaan dan Tanggung Jawab Bersama

Bergabungnya Ponorogo dan Malang dalam jaringan ini bukan hanya prestasi simbolik, tapi juga tanggung jawab besar untuk menjaga kesinambungan budaya dan memperkuat ekosistem kreatif.

Kreativitas bukan sekadar hasil, tetapi juga proses panjang yang melibatkan masyarakat, pendidikan, dan nilai-nilai lokal.

Dalam konteks ini, Indonesia kembali membuktikan bahwa kreativitas bisa tumbuh dari berbagai akar — baik dari panggung Reog yang magis, maupun studio digital yang modern.

Dua kota ini kini menjadi bukti nyata bahwa masa depan budaya Indonesia terletak pada kemampuan untuk mengharmonikan tradisi dan inovasi.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Kota Kreatif UNESCO #UNESCO 2025 #Media Arts #Reog Ponorogo #budaya Indonesia #Ponorogo #malang