RADARBONANG.ID – Di balik perbukitan Merak, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, berdiri megah Pajimatan Imogiri, kompleks makam terbesar para raja-raja Mataram Islam.
Tempat ini bukan sekadar kawasan pemakaman, melainkan simbol sejarah panjang kejayaan dan spiritualitas kerajaan-kerajaan Jawa.
Kompleks yang juga dikenal sebagai Puralaya Imogiri menjadi persemayaman terakhir bagi 24 raja Mataram, mulai dari masa sebelum Perjanjian Giyanti (1755) hingga raja-raja penerus dari Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, beserta keluarga dan pengikut setianya.
Baca Juga: Desa Pemuteran Bali Dinobatkan Jadi Desa Wisata Terbaik Dunia 2025 versi UN Tourism
Secara administratif, khususnya untuk kompleks bagian timur, pengelolaan Pajimatan Imogiri berada di bawah Kawedanan Sri Wandawa, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Dalam keseharian, sekitar 100 Abdi Dalem mengabdi dengan penuh dedikasi untuk menjaga kesucian, ketertiban, serta kelestarian tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Mereka menjadi penjaga harmoni antara sejarah, budaya, dan nilai spiritual yang masih hidup hingga kini.
Tempat Peristirahatan Terakhir PB XIII
Nama Pajimatan Imogiri kembali menjadi sorotan setelah menjadi tempat dimakamkannya Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) XIII, Raja Surakarta Hadiningrat yang wafat pada 2 November 2025 di usia 77 tahun.
Pemakaman PB XIII menambah deretan panjang raja-raja Mataram yang bersemayam di kompleks sakral ini, mempertegas Imogiri sebagai simbol kesinambungan sejarah dan legitimasi raja-raja Jawa.
Prosesi Pemakaman dan Ritual Adat Keraton
Pemakaman PB XIII berlangsung khidmat dengan serangkaian prosesi adat khas Keraton Surakarta yang dijalankan secara penuh penghormatan.
Upacara diawali di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan ritual “brobosan”, di mana keluarga dan kerabat dekat bergiliran melintasi peti jenazah sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Brobosan melambangkan rasa pamit dan doa agar arwah raja mendapatkan jalan terang menuju keabadian.
Setelah itu, dilanjutkan dengan tahlil dan ritual “bedah bumi” di Pajimatan Imogiri.
Tradisi ini dilakukan oleh Abdi Dalem Pajimatan sebagai tanda pembukaan tanah yang akan menjadi tempat peristirahatan raja.
Baca Juga: Legenda Empu Keris Nusantara: Dari Sakti Mandraguna hingga Kutukan Mpu Gandring
Bedah bumi memiliki makna simbolis: penyatuan antara unsur langit, bumi, dan manusia sebagai wujud kembalinya sang raja kepada Sang Pencipta.
Jenazah kemudian diberangkatkan dari Surakarta menuju Imogiri dengan kirab adat yang disertai iringan prajurit keraton, kereta pusaka, serta doa dari masyarakat yang berbaris di sepanjang jalan.
Rombongan melewati Plengkung Gading, jalur sakral yang hanya dilalui oleh raja yang telah wafat, sebelum akhirnya tiba di kompleks makam.
Di Astana Girimulya, kawasan khusus milik Kasunanan Surakarta di Imogiri, jenazah PB XIII dimakamkan berdampingan dengan para leluhurnya.
Prosesi pemakaman berlangsung tertutup, namun masyarakat diperkenankan memberikan penghormatan dari area luar kompleks.
Makna Spiritual dan Warisan Budaya
Pemakaman PB XIII di Pajimatan Imogiri bukan sekadar upacara adat, tetapi juga peristiwa budaya yang meneguhkan nilai-nilai spiritual Jawa.
Prosesi sakral ini menandai siklus kehidupan seorang raja — dari penguasa duniawi menjadi bagian dari alam abadi.
Ritual-ritual seperti brobosan, kirab, dan bedah bumi bukan hanya warisan simbolik, tetapi juga cara masyarakat Jawa menjaga hubungan antara manusia, leluhur, dan semesta.
Kini, Pajimatan Imogiri kembali menjadi saksi bisu perjalanan panjang dinasti Mataram Islam.
Dengan Abdi Dalem yang terus menjaga tradisi dan masyarakat yang tetap berziarah, tempat ini bukan hanya situs sejarah, tetapi juga ruang spiritual yang menghidupkan kembali ingatan tentang kejayaan, kebijaksanaan, dan kesetiaan kepada warisan budaya Jawa.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah