Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Miris! Warisan Banyak, Tim Ahli Nihil: Tuban Masih Nebeng ke Mojokerto Buat Ngurus Sejarah Sendiri

Shafa Dina Hayuning Mentari • Rabu, 5 November 2025 | 18:05 WIB
Gerbang paduraksa kuno di kompleks Makam Sunan Bonang, Tuban — salah satu situs bersejarah penting yang selama ini masih dikurasi oleh BPK Wilayah XI Mojokerto.
Gerbang paduraksa kuno di kompleks Makam Sunan Bonang, Tuban — salah satu situs bersejarah penting yang selama ini masih dikurasi oleh BPK Wilayah XI Mojokerto.

RADARBONANG.ID – Lucu tapi miris. Kabupaten Tuban yang dikenal punya sejarah segede gaban, dari jejak Wali Songo sampai candi-candi tua yang bikin arkeolog klepek-klepek, ternyata belum punya Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) sendiri.

Yes, Bumi Ronggolawe — yang tiap jengkal tanahnya bisa jadi bahan skripsi — masih numpang ke Mojokerto buat urusan sakral kayak kurasi benda bersejarah.

Makam Sunan Bonang?

Makam Asmoroqondi?

Goa Suci, Candi Bulujowo, sampai Makam Sunan Bejagung Lor–Kidul?

Semuanya masih diurus oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Mojokerto. Alias: warisan kita, disertifikasi orang lain.

“Tahun depan sudah kami rencanakan untuk memiliki TACB sendiri. Akan kami dampingi mulai dari pelatihan hingga proses sertifikasi,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Tuban, Mohammad Emawan Putra, yang mulai greget lihat warisan budaya lokal kayak anak tanpa wali.

Tim Ahli Lokal Berisi Lima Orang Pilihan

Rencananya, TACB ini bakal berisi lima orang pilihan — bukan PNS, tapi orang-orang yang paham sejarah, budaya, arkeologi, hukum, dan tentu aja punya sense of heritage.

Biar enggak asal foto-foto di situs bersejarah cuma buat caption “#healing #vibesjadul” tapi enggak tahu maknanya.

“Kami akan merekrut dan menyesuaikan kualifikasi sesuai yang dibutuhkan untuk menjadi tim ahli cagar budaya,” lanjut Emawan.

Tugas mereka nanti bukan main-main. Selain kurasi benda bersejarah, TACB juga bakal memberi rekomendasi penetapan, mengidentifikasi situs, dan mengawasi proses konservasi.

Pokoknya kayak Avengers-nya benda cagar budaya — cuma bedanya, mereka bawa dokumen, bukan palu Thor.

“Anggota tim ahli cagar budaya nanti tidak bersifat pegawai negeri sipil (PNS). Mereka bertugas mengurasi, memberikan rekomendasi penetapan objek, melakukan kajian hingga identifikasi, serta memantau dan mengevaluasi kegiatan konservasi dan rehabilitasi,” jelasnya.

Masalahnya, selama ini Tuban tuh kayak kolektor artefak yang belum punya katalog sendiri. Banyak barang antik, tapi bingung siapa yang ngurusin.

Akibatnya, tiap kali ada penemuan baru, harus minta tanda tangan dari kota sebelah dulu. Ibarat punya rumah megah, tapi KTP-nya masih numpang.

Perkuat Sistem Pelestarian Budaya

Emawan optimistis, kalau TACB ini jadi dibentuk tahun depan, Tuban enggak cuma kaya sejarah — tapi juga kaya sistem pelestarian.

“Nantinya tim ahli cagar budaya juga akan melakukan kurasi terhadap benda-benda peninggalan sejarah yang ada di Tuban,” tandasnya.

Dan kalau semua berjalan lancar, semoga ke depan cagar budaya kita enggak cuma jadi spot foto wisata, tapi juga jadi bukti kalau Tuban bisa jaga warisannya sendiri.

Karena gimana pun, masa iya, kota yang punya Sunan Bonang masih numpang kurasi ke Mojokerto? (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Tim Ahli Cagar Budaya Tuban #pelestarian cagar budaya #warisan budaya Tuban #Disbudporapar Tuban #TACB Tuban