Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Uswatun Hasanah, Pelestari Batik Gedog Tuban Generasi ke-5 : Penjaga Warisan Budaya yang Tak Pernah Padam

Shafa Dina Hayuning Mentari • Rabu, 29 Oktober 2025 | 18:14 WIB
pelestari batik gedog asal Kerek, Tuban, menata hasil karya tenun dan batik tradisional yang masih diproduksi secara manual.
pelestari batik gedog asal Kerek, Tuban, menata hasil karya tenun dan batik tradisional yang masih diproduksi secara manual.

RADARBONANG.ID – Suara “tek-tek-tek” alat tenun tradisional bersahut-sahutan dengan riuhnya pelajar yang siang itu memenuhi halaman rumah joglo klasik bercat bata merah di Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek.

Aroma malam batik menyeruak sejak pintu pagar dibuka.

Di situlah, Uswatun Hasanah—sosok yang kini berdiri sebagai generasi kelima pelestari batik gedog—menyambut tamu dengan langkah mantap.

Baca Juga: Kementerian Haji dan Umrah Resmi Lahir, Aset dan SDM Daerah Siap Dirombak Total! Kemenag Tuban Tunggu Juknis Pusat

Di tengah kesibukan pekerja yang hilir-mudik, perempuan yang akrab disapa Bu Uswatun itu tak hanya menjadi “bos produksi”.

Lebih dari itu, ia adalah penjaga terakhir rantai estafet budaya yang sudah diwariskan turun-temurun oleh leluhurnya.

“Kalau batik tidak diajarkan pada generasi muda, lama-lama warisan budaya ini akan hilang,” ujarnya tegas. 

Tak Sekadar Membatik, Tapi Mewariskan Nyawa Budaya 

Bagi ibu tiga anak ini, membatik bukan sekadar kerja tangan.

Ini adalah ibadah budaya—cara merawat jati diri agar tidak punah digilas zaman.  

Sebagai Ketua Paguyuban Batik Tuban, ia sadar beban yang ia pikul besar: menjaga agar batik gedog tetap hidup, dikenal, dipakai, dan membumi.

Karena itu, rumah produksinya berubah fungsi menjadi laboratorium budaya.

Siapa pun boleh belajar: pelajar, komunitas, mahasiswa, hingga wisatawan asing.

“Dulu sempat beberapa bule menginap di rumah untuk lihat proses pembuatan batik gedog dan mencoba belajar juga,” tuturnya.

Belajar dari Kapas Jadi Kain: Bukan Instan, Tapi Berkarakter 

Berbeda dengan batik pabrik yang tinggal cap dan cetak, batik gedog menuntut ketelatenan tingkat zen.

Di rumah produksi ini, pengunjung bisa melihat proses panjang yang tidak banyak tempat masih mampu melakukannya: memintal kapas jadi benang, menenun pakai alat gedog kayu, mencanting motif manual, hingga pewarnaan.

Setiap hari, sekitar 100 perajin dari warga sekitar bekerja di bawah arahan langsung Uswatun.

Ia tidak hanya memantau dari jauh, tetapi turun tangan mengajar satu per satu. 

“Saya ingin mereka bisa mandiri. Tidak hanya tahu caranya, tapi juga mencintai prosesnya,” tegasnya. 

Karena baginya, budaya hidup bukan karena diproduksi, tetapi karena dimasukkan ke hati.  

Tak Mau Kehilangan Ciri: Tradisi Dijaga Ketat 

Di era serba cepat dan instan, Uswatun justru semakin keras menolak modernisasi berlebihan.

“Kami masih menjaga cara lama agar hasilnya tetap punya karakter khas. Itu yang membuat batik gedog berbeda,” tegasnya. 

Batik gedog buatannya tetap memakai alat tenun gedog dari kayu, tanpa mesin, tanpa pola pabrikan.

Benang dipintal sendiri, dan motif tetap lahir dari tangan.

Bahkan ia membentuk tim koreksi untuk menyeleksi kualitas sebelum produk keluar. 

Jika ada motif yang kurang “rasa”-nya, ia berani mengulang. Baginya, kualitas bukan kompromi. 

Dikenal Dunia, Tapi di Rumah Sendiri Masih Rentan Punah 

Karya Uswatun sudah menyambangi panggung internasional: Australia, Kamboja, Belanda, Singapura, dan negara lain.

Bahkan baru-baru ini, ia baru saja mengirim pesanan batik ke Singapura.

“Kalau budaya kita bisa dikenal di negara lain, itu harusnya menjadi kebanggaan tersendiri. Tapi untuk saat ini yang lebih penting, jangan sampai di negeri sendiri justru batik dilupakan,” sindirnya.

Sindiran yang terasa pedas—karena benar. Apalah artinya dipuji dunia kalau generasi sendiri cuek. 

Perjuangan Regenerasi: “Saya Tak Mau Jadi Penjaga Terakhir” 

Ancaman terbesar batik gedog bukan pasar, bukan kompetitor, tapi regenerasi.

Karena itu, Uswatun kini lebih agresif membuka kelas membatik untuk anak-anak muda, pelajar, hingga komunitas kreatif.

“Alhamdulillah anak-anak saya sedikit demi sedikit berkenan untuk belajar tentang batik. Semoga memang ke depannya bisa meneruskan untuk menjaga batik Tuban agar tetap eksis,” harapnya. 

Harapan itu dipasang tinggi, karena ia tahu: kalau mata rantai generasi putus, selesai sudah cerita batik gedog.

“Di masa mendatang saya memang aktif membuka kelas membatik agar banyak anak muda yang bisa melanjutkan hal ini. Kalau tidak ada penerus, batik gedog ini bisa hilang. Saya ingin anak-anak kita bangga dengan warisan ini,” tandasnya. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#regenerasi batik indonesia #Batik Gedog Tuban #Uswatun Hasanah #Pelestari batik tradisional