RADARBONANG.ID - Penulis asal Hongaria, Laszlo Krasznahorkai, resmi dinobatkan sebagai peraih Hadiah Nobel Sastra 2025.
Dia mendapat penghargaan bergengsi itu berkat “karya sastranya yang memikat dan visioner, yang di tengah teror apokaliptik menegaskan kembali kekuatan seni,” demikian pernyataan resmi dari Akademi Swedia, Kamis (9/10).
Krasznahorkai akan menerima hadiah senilai 11 juta krona Swedia atau sekitar US$1,2 juta, menjadikannya bagian dari deretan sastrawan besar dunia yang karyanya diakui berpengaruh secara global.
Penulis berusia 70 tahun itu dikenal lewat prosa panjangnya yang kompleks dan atmosfer kelam, sering kali menggambarkan dunia yang berada di ambang kehancuran moral dan sosial.
Karya-karyanya, seperti Satantango dan The Melancholy of Resistance, telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan diadaptasi ke layar oleh sutradara Béla Tarr.
Akademi Swedia menilai, gaya menulis Krasznahorkai yang padat dan penuh refleksi menawarkan pengalaman membaca yang intens, menantang pembaca untuk merenungkan kondisi manusia di tengah kekacauan zaman modern.
Penghargaan Nobel Sastra ini merupakan bagian dari rangkaian Hadiah Nobel tahunan yang pertama kali ditetapkan dalam wasiat Alfred Nobel, penemu dinamit asal Swedia yang wafat pada 1896.
Nobel mengamanatkan agar kekayaannya digunakan untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang memberi “manfaat terbesar bagi umat manusia” di bidang fisika, kimia, kedokteran, sastra, dan perdamaian.
Sementara itu, Hadiah Nobel bidang ekonomi baru ditambahkan kemudian oleh Bank Sentral Swedia pada 1968, untuk mengapresiasi kontribusi besar di bidang ilmu ekonomi global.
Dalam beberapa tahun terakhir, Akademi Swedia berusaha menghadirkan keseimbangan gender dalam pemilihan pemenang Nobel Sastra.
Sejumlah sastrawan perempuan juga menerima penghargaan bergengsi ini, seperti Annie Ernaux dari Prancis, Louise Glück dari Amerika Serikat, dan Olga Tokarczuk dari Polandia.
Tahun lalu, penghargaan Nobel Sastra diberikan kepada Han Kang, penulis asal Korea Selatan, berkat prosa puitisnya yang intens dalam mengangkat tema trauma dan sejarah.
Sebelum Han Kang, pemenang lain seperti Svetlana Alexievich (Belarus) pada 2015 dikenal lewat karya-karyanya yang mengkritik sistem politik Uni Soviet, sedangkan Toni Morrison (AS) pada 1993 menulis tentang pergulatan identitas dan kesetaraan di tengah kerasnya realitas sosial Amerika.
Penganugerahan Nobel tahun ini kembali menarik perhatian dunia sastra karena menyoroti pentingnya suara dari Eropa Timur, wilayah yang kerap menghasilkan karya dengan kedalaman filosofis dan kritik sosial yang tajam.
Krasznahorkai sendiri kerap disebut sebagai “penulis dari dunia yang sedang runtuh,” karena kemampuannya menggambarkan keputusasaan manusia dengan gaya puitis dan narasi berlapis.
Tema-tema yang ia usung mencakup eksistensialisme, kehancuran spiritual, hingga absurditas modernitas.
Kemenangan ini sekaligus menjadi momen penting bagi sastra Hongaria, setelah bertahun-tahun nama-nama besar seperti Imre Kertész dan Peter Nádas mendominasi panggung sastra Eropa Tengah.
Dengan pencapaian ini, Krasznahorkai semakin meneguhkan reputasinya sebagai salah satu penulis paling berpengaruh dari kawasan tersebut.
Akademi Swedia menyebut keputusan memberikan penghargaan kepadanya sebagai bentuk pengakuan atas “kemampuan luar biasa dalam mengubah ketakutan dan kekacauan menjadi karya seni yang indah.”
Seluruh peraih Hadiah Nobel 2025 akan diumumkan secara bertahap hingga 13 Oktober 2025 di Stockholm, sementara Hadiah Nobel Perdamaian akan diputuskan terpisah oleh Komite Nobel Norwegia di Oslo pada Jumat (10/10).
Penghargaan ini kembali mengingatkan dunia akan nilai universal dari sastra: bahwa bahkan di tengah kehancuran, kata-kata masih mampu menyelamatkan manusia dari keputusasaan. (*)
Editor : Amin Fauzie