RADARBONANG.ID – Kalender Jawa kembali memberi pesan tersendiri pada Kamis Kliwon di bulan Safar 2025, yang bertepatan dengan 21 Agustus.
Dalam hitungan Primbon, weton ini memiliki neptu 16 (Kamis 8 Kliwon 8) dan dipercaya membawa pengaruh tertentu bagi keberuntungan, rezeki, maupun aktivitas besar yang dilakukan pada hari itu.
Berdasarkan perhitungan primbon, kondisi rezeki pada Kamis Kliwon di bulan Safar 2025 diperkirakan agak melemah.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau lebih mawas diri, menghindari pekerjaan yang berisiko tinggi, serta tidak gegabah dalam mengambil keputusan, apalagi yang berkaitan dengan spekulasi atau investasi besar.
Hari ini juga disebut bertepatan dengan hari naas bagi mereka yang lahir di weton Senin Pahing, Senin Pon, dan Selasa Pon.
Bagi pemilik weton tersebut, sebaiknya menunda kegiatan penting seperti perjalanan jauh, hajatan besar, maupun pekerjaan yang membutuhkan energi besar.
Jika perjalanan tidak bisa dihindari, disarankan untuk tidak mengambil arah timur agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Selain itu, Kamis Kliwon di bulan Safar 2025 dinilai kurang baik untuk memulai usaha atau bisnis baru.
Hitungan Jawa menyebutnya sebagai dino suwung, yang berarti usaha berpotensi berjalan kurang lancar bila dimulai pada hari itu.
Namun, ada pengecualian. Bagi yang hendak pindah rumah, hari ini justru tergolong baik karena jatuh pada perhitungan Kipo Guru, Kerto, dan Candi.
Hanya saja, arah selatan sebaiknya dihindari saat melakukan perpindahan rumah.
Di sisi lain, ada kabar baik bagi pasangan yang berencana menikah.
Perhitungan Jawa menempatkan Kamis Kliwon ini pada pekan keempat Safar sekaligus berada dalam wuku Kelawu.
Dari hasil hitungan, hari ini justru cocok untuk melangsungkan akad nikah atau ijab kabul.
Diyakini, pernikahan yang berlangsung pada hari ini akan membawa keberkahan, ketentraman, serta rezeki yang mengalir.
Adapun arah keberuntungan pada Kamis Kliwon di bulan Safar 2025 berada di timur dan barat.
Ini bisa menjadi pertimbangan bagi siapa pun yang hendak mengikuti perlombaan, wawancara kerja, hingga urusan menagih hutang atau membeli kendaraan.
Sementara itu, arah baik untuk mencari rezeki ditunjukkan ke utara dan barat.
Meski begitu, ada catatan penting. Hari ini dianggap tidak baik bila digunakan untuk urusan resmi yang bersentuhan dengan pemerintahan atau aktivitas formal lainnya.
Karena itu, sebaiknya jadwal terkait birokrasi ditunda ke hari lain.
Dengan memahami petungan Jawa ini, masyarakat bisa menjadikannya sebagai pengeling atau nasihat.
Bukan untuk dijadikan patokan mutlak, melainkan sebagai bentuk kehati-hatian agar setiap langkah hidup lebih terarah. (*)
Editor : Amin Fauzie