Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Surat Kartini Masuk Memory of the World, Pengakuan Dunia atas Warisan Intelektual Perempuan Indonesia

Amin Fauzie • Rabu, 20 Agustus 2025 | 11:25 WIB

Surat-surat RA Kartini mendapat pengakuan internasional, resmi tercatat dalam Memory of the World UNESCO. Foto adalah ilustrasi.
Surat-surat RA Kartini mendapat pengakuan internasional, resmi tercatat dalam Memory of the World UNESCO. Foto adalah ilustrasi.


RADARBONANG.ID – Surat-surat Raden Ajeng Kartini kini resmi tercatat dalam Memory of the World UNESCO, sebuah pengakuan internasional yang menegaskan betapa pentingnya warisan intelektual tokoh emansipasi perempuan Indonesia ini.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut, pengakuan global itu bukan hanya mengangkat harkat dan martabat sosok Kartini, tetapi juga menjadi inspirasi yang relevan bagi langkah kemajuan perempuan Indonesia di masa depan.

“Dengan ditetapkannya surat-surat Kartini dalam Memory of the World, ini akan berdampak besar. Bukan hanya pengakuan pada sosok Kartini, tapi juga dorongan semangat bagi perempuan Indonesia untuk terus maju,” ungkapnya di Jakarta, Rabu (20/8).

Surat-surat Kartini yang sarat gagasan tentang pendidikan, kesetaraan, dan kebebasan berpikir itu kini diakui sebagai memori kolektif dunia.

Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) turut berperan besar dalam memperjuangkan dan memamerkan koleksi berharga tersebut melalui berbagai pameran dan seminar.

Fadli menambahkan, Indonesia patut bangga karena kini memiliki lima koleksi arsip yang masuk daftar 74 inskripsi terbaru Memory of the World Register UNESCO.

Termasuk di dalamnya, surat-surat Kartini yang menjadi simbol kontribusi pemikiran bangsa terhadap peradaban global.

Kartini menulis surat-suratnya pada awal abad ke-20, di tengah keterbatasan akses perempuan terhadap pendidikan.

Pemikirannya melampaui zamannya. Fadli menyinggung, di Amerika Serikat hak pilih perempuan baru diakui pada tahun 1920-an, sementara di Indonesia kesadaran kolektif perempuan sudah muncul lewat Kongres Perempuan Indonesia 1928.

Hal ini membuktikan bahwa pemikiran Kartini jauh lebih progresif dibanding konteks global saat itu.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, menegaskan bahwa arsip surat-surat Kartini bukan sekadar dokumen lama, melainkan warisan intelektual yang visioner dan strategis.

“Mengarsip surat-surat R.A. Kartini dalam Memory of the World bukan hanya langkah administratif, tapi simbolik dan praktis untuk menjaga semangat emansipasi perempuan Indonesia,” ujarnya.

Kini, dengan masuknya surat-surat Kartini ke dalam Memory of the World, dunia tidak hanya mengenang seorang tokoh, melainkan juga mengakui sumbangan besar pemikiran perempuan Indonesia dalam membangun fondasi peradaban yang lebih adil dan setara. (*)

Editor : Amin Fauzie
#surat kartini #warisan intelektual #tokoh emansipasi perempuan Indonesia #unesco #Memory of the world