RADARBONANG.ID – Kata Satu Suro sudah sangat familiar bagi masyarakat Jawa, terutama saat memasuki bulan baru dalam perhitungan kalender Jawa.
Namun, tak banyak yang benar-benar memahami sejarah singkat Satu Suro dan sejak kapan kalender Jawa diberlakukan secara resmi.
Mengutip sejumlah artikel dari beberapa studi penanggalan Jawa, satu Suro adalah nama lokal untuk tanggal 1 Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriyah.
Dalam tradisi Islam-Jawa, penyebutan “Suro” berasal dari kata Arab "Asyura", yang berarti tanggal sepuluh, yakni 10 Muharram.
Tetapi dalam lidah masyarakat Jawa, istilah itu melekat sebagai nama bulan dan hari pertama tahun baru Jawa.
Sejarah Singkat Satu Suro
Dalam sejarah singkat Satu Suro, bulan ini diyakini sebagai waktu yang sakral dan penuh makna.
Tak hanya berkaitan dengan sejarah Islam, seperti peristiwa penting yang terjadi pada 10 Muharram, masyarakat Jawa memaknai Satu Suro sebagai momen untuk introspeksi diri, menyucikan batin, dan menjauhi hura-hura.
Beragam tradisi pun muncul, mulai dari tirakatan, ngelmu kebatinan, hingga tradisi kirab malam Satu Suro di berbagai daerah yang kaya nilai simbolik dan spiritual.
Di sinilah perpaduan budaya Islam dan Jawa menemukan bentuknya, menjadikan Suro tak hanya sebuah nama bulan, melainkan juga identitas budaya.
Kapan Kalender Jawa Diberlakukan?
Kalender Jawa diberlakukan secara resmi oleh Sultan Agung Mataram pada tanggal 8 Juli 1633 Masehi.
Sultan Agung menyatukan dua sistem penanggalan, yakni kalender Hijriyah yang berbasis peredaran bulan (komariyah) dan kalender Saka Hindu yang berbasis matahari (syamsiyah).
Tahun baru dalam kalender Jawa dimulai dari 1 Suro tahun Alip 1555, yang setara dengan 1 Muharram 1043 Hijriyah.
Perubahan ini menjadi tonggak penting dalam sejarah budaya Nusantara, karena sejak saat itu penanggalan Jawa tak lagi hanya bersifat budaya, tetapi juga sarat nilai Islam dan spiritualitas.
Kalender ini bukan sekadar alat penentu tanggal, melainkan panduan hidup masyarakat Jawa dalam menandai hari baik, pasaran, peruntungan, hingga hari keramat.
Itulah sejarah singkat Satu Suro dan sejak kapan kalender Jawa diberlakukan secara resmi.
Pungkasnya, Satu Suro bukan sekadar penanggalan, tapi simbol kesadaran budaya, spiritualitas, dan siklus kehidupan yang telah bertahan berabad-abad lamanya. (*)
Editor : Amin Fauzie