RADARBONANG.ID – Kebudayaan Jawa yang kita kenal hari ini memiliki akar sejarah panjang yang membentang sejak masa kejayaan Kerajaan Mataram.
Menurut Marbangun Harjowirogo dalam bukunya Manusia Jawa, masyarakat Jawa dapat diklasifikasikan ke dalam tiga tipe wilayah kebudayaan berdasarkan struktur sosial dan pusat-pusat peradabannya, yakni Negarigung, Mancanegari, dan Pesisiran.
1. Negarigung
Wilayah Negarigung mencakup daerah inti Kerajaan Mataram, yaitu Surakarta (Solo) dan Yogyakarta.
Masyarakat yang tinggal di kawasan ini disebut sebagai Tiyang Nagari atau Orang Negeri.
Kebudayaan yang berkembang di sini bersumber langsung dari keraton dan termasuk dalam kategori peradaban besar.
Ciri utama masyarakat Negarigung adalah penekanan pada kehalusan perilaku, tutur bahasa yang sopan, dan kesenian yang penuh estetika.
Bahasa Jawa halus atau krama menjadi bagian penting dalam interaksi sehari-hari.
Selain itu, pandangan keagamaan mereka cenderung sinkretik, yakni perpaduan antara ajaran Islam, kepercayaan lokal, dan unsur Hindu-Buddha yang diwariskan dari masa lampau.
2. Mancanegari
Wilayah Mancanegari mencakup daerah yang mengelilingi pusat Keraton seperti Magelang, Bantul, Gunung Kidul, Klaten, dan Sukoharjo.
Masyarakat di wilayah ini disebut sebagai Tiyang Pinggiran atau Orang Pinggiran.
Meski berada di luar pusat peradaban, masyarakat Mancanegari masih memiliki kemiripan budaya dengan Negarigung, terutama dalam aspek bahasa dan seni.
Namun, kualitas dan kedalaman kebudayaannya tidak setinggi budaya keraton.
Dalam hal keagamaan, masyarakat Mancanegari cenderung menganut Kejawen, yaitu tradisi religius yang menggabungkan Islam dengan adat dan spiritualitas lokal.
3. Pesisiran
Berbeda dari dua wilayah sebelumnya, kawasan Pesisiran mencakup daerah-daerah sepanjang pantai utara Pulau Jawa, dan terbagi ke dalam dua kelompok besar:
- Pesisiran Barat: meliputi Demak, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, dan Brebes
- Pesisiran Timur: meliputi Surabaya, Gresik, Sedayu, Tuban, Lasem, Juwana, Pati, Kudus, dan Jepara
Masyarakat Pesisiran disebut sebagai Tiyang Sanès atau Orang Lain, karena mereka dianggap memiliki budaya yang berbeda dari budaya keraton.
Kebudayaan Pesisiran dikenal lebih lugas, egaliter, langsung, dan ekspresif.
Bahasa sehari-hari yang digunakan adalah ngoko (bahasa Jawa kasar), serta bentuk keseniannya lebih sederhana dan tidak serumit gaya keraton.
Secara religius, masyarakat pesisiran memiliki kecenderungan kuat terhadap Islam puritan, dengan tingkat penghormatan tinggi kepada para ulama dan kyai.
Hal ini sejalan dengan sejarah awal Islam di Jawa yang banyak berkembang melalui jalur pesisir utara.
Kesimpulannya, ketiga wilayah kebudayaan—Negarigung, Mancanegari, dan Pesisiran—mencerminkan keberagaman masyarakat Jawa yang terbentuk melalui sejarah, geografis, dan pengaruh kerajaan maupun agama.
Negarigung hadir sebagai pusat peradaban yang halus dan berakar pada keraton, Mancanegari sebagai daerah pinggiran yang masih mewarisi kebudayaan utama namun dengan sentuhan lokal, sedangkan Pesisiran tampil dengan ciri khas keagamaan yang kuat dan ekspresi kebudayaan yang lebih terbuka serta egaliter.
Memahami perbedaan ini bukan hanya soal membedakan wilayah, melainkan menyadari bahwa kebudayaan Jawa sangat dinamis dan beragam, serta terus hidup dalam keseharian masyarakatnya hingga kini. (*)
Editor : Amin Fauzie