Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Sandur, Seni Tradisi Jawa Timur yang Terlupakan! Ini 7 Fakta Unik yang Jarang Diketahui Publik"

Tulus Widodo • Kamis, 19 Juni 2025 | 12:05 WIB
Seni pertunjukan tradisional Sandur.
Seni pertunjukan tradisional Sandur.

RADARBONANG.ID – Kalau bicara budaya tradisional Jawa Timur, orang sering menyebut Ludruk, Reog, Tayub, hingga Ketoprak.

Tapi tahukah kamu bahwa ada satu kesenian rakyat yang tak kalah seru dan penuh magis, namun kini nyaris punah? Namanya adalah Sandur.

Meski mulai tergerus zaman, jejak-jejak budaya sandur masih bisa ditemukan di desa-desa pelosok, khususnya di wilayah Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan.

Tapi jangan salah, Sandur bukan sekadar pertunjukan seni biasa. Di balik gerak, irama gamelan, dan tarian mistisnya, tersimpan cerita rakyat, ritual agraris, hingga sindiran sosial yang tajam.

Berikut ini fakta-fakta unik dan menarik tentang budaya Sandur yang belum banyak diketahui orang.

Bisa jadi, setelah baca ini kamu bakal jatuh cinta pada salah satu warisan budaya tak benda Indonesia yang kian langka ini.

1. Asal Usul Nama “Sandur” Masih Misterius, Tapi Sarat Makna

Tak ada dokumen resmi yang menyebut pasti dari mana nama Sandur berasal.

Namun beberapa budayawan meyakini nama ini berakar dari kata "nyandur" (menanam) dalam bahasa Jawa.

Karena itulah, pertunjukan Sandur kerap digelar sebagai bagian dari ritual tolak bala dan sedekah bumi, khususnya menjelang atau setelah masa tanam padi.

2. Persebaran Sandur Lebih Luas dari yang Dikira

Meski kini identik dengan Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan, jejak pertunjukan Sandur pernah ditemukan di wilayah Blora, Jombang, bahkan hingga Kediri dan Madiun.

Namun kini, hanya segelintir kelompok seni di pedesaan yang masih aktif mementaskannya. Sandur menjadi semacam “harta karun budaya” yang tersembunyi di pelosok-pelosok desa.

3. Punya Tokoh Mistis Bernama Bujang Ganong Lokal: 'Badut Sandur'

Kalau di Reog ada Bujang Ganong, di Sandur juga ada tokoh badut khas dengan wajah dicat, topeng lucu, atau dandanan nyeleneh.

Tokoh ini berperan sebagai penghibur sekaligus pengkritik sosial.

Lewat celotehan dan guyonannya, badut Sandur menyentil isu-isu masyarakat dengan gaya satir, namun tetap jenaka.

4. Pertunjukan Dimulai dengan Ritual “Mbabar Lakon”

Sandur bukan sekadar pentas hiburan. Sebelum dimulai, ada prosesi “mbabar lakon” atau membuka cerita. Prosesi ini kadang disertai pembacaan doa-doa leluhur atau mantra tolak bala.

Inilah yang menjadikan Sandur lebih dari sekadar teater: ia adalah seni yang hidup dalam spiritualitas masyarakat desa.

5. Pemainnya Mayoritas Petani dan Emak-Emak Desa

Berbeda dari kesenian lain yang sering dibawakan oleh seniman profesional, pemain Sandur umumnya adalah warga desa itu sendiri, mulai dari petani, ibu rumah tangga, hingga pemuda kampung.

Mereka tampil bukan untuk ketenaran, tapi untuk melestarikan tradisi dan menjaga harmoni desa.

6. Sandur Berisi Kritik Sosial, Romansa, dan Parodi Kehidupan Sehari-hari

Di tengah alunan kendang dan bonang, cerita Sandur sering mengangkat isu-isu nyata: ketimpangan ekonomi, pernikahan paksa, hingga kisah cinta yang gagal karena kasta sosial.

Tapi semuanya dibawakan dengan gaya humor dan parodi kehidupan yang relatable.

Maka tak heran, dulu pertunjukan Sandur bisa berlangsung semalaman penuh dan ditonton seluruh warga.

7. Terancam Punah, Tapi Sedang Didorong Jadi Warisan Budaya Tak Benda

Ironisnya, meski kaya makna dan unik, Sandur kini nyaris tak dikenal generasi muda.

Hanya beberapa desa di Bojonegoro dan Tuban yang masih menggelar Sandur dalam acara sedekah bumi.

Pemerintah daerah setempat pun mulai mengusulkan Sandur sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) ke Kementerian Kebudayaan.

Harapannya, kesenian ini bisa bangkit dan dikenalkan ke panggung nasional.

So, Sandur bukan sekadar seni, tapi cermin jiwa dan suara masyarakat desa.

Di dalamnya ada tradisi, spiritualitas, kritik sosial, dan tentu saja hiburan yang penuh warna.

Di tengah derasnya budaya pop, Sandur butuh lebih banyak mata yang mau melihat dan telinga yang mau mendengar.

Jangan sampai ia hilang tanpa pernah kita kenal.

Pernah nonton Sandur secara langsung? Atau baru tahu seni ini hari ini?

Yuk, bagikan cerita dan dukunganmu untuk kesenian Indonesia yang nyaris terlupakan ini. (*)

------------------------

Ikuti terus info budaya dan tradisi Nusantara hanya di radarbonang.jawapos.com!

Editor : Amin Fauzie
#kesenian #lamongan #bojonegoro #tradisi #ritual #Asal-usul #sandur #fakta unik #Lakon #cerita rakyat #budaya tradisional Jawa Timur #tuban #pertunjukan seni