Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Tongklek: Musik Ramadan yang Dulu Dicap “Berisik”, Kini Jadi Simbol Kreativitas Anak Muda Tuban!

Tulus Widodo • Rabu, 18 Juni 2025 - 06:10 WIB
Tongklek, tradisi penanda waktu makan sahur yang masih ada hingga sekarang.
Tongklek, tradisi penanda waktu makan sahur yang masih ada hingga sekarang.

RADARBONANG.ID – Jika Ramadan di kota lain identik dengan bedug masjid dan petasan, lain halnya dengan di Tuban.

Saat malam datang, gang-gang sempit di kota pesisir ini justru dipenuhi dentuman ritmis dari ember cat bekas, galon air, dan panci—itulah suara tongklek!

Apa itu tongklek? Bukan nama makanan atau permainan, tapi tradisi musik jalanan khas Tuban yang selalu muncul di bulan Ramadan.

Dulu dianggap "berisik", kini tongklek justru naik kelas jadi ajang seni dan identitas budaya lokal yang diperjuangkan generasi muda.

Awalnya Cuma Cara Bangunin Sahur

Tongklek lahir dari tradisi sederhana: membangunkan warga untuk sahur.

Namun berbeda dari kentongan atau teriakan keliling biasa, warga Tuban—khususnya para remaja dan pemuda desa—mulai berkreasi dengan alat seadanya.

Galon, kaleng cat, gentong, wajan bekas, hingga bambu tua disulap jadi alat musik perkusi jalanan.

Tak ada notasi, hanya ketukan ritmis yang mengandalkan semangat dan kekompakan.

“Dulu kami main tongklek cuma buat seru-seruan keliling kampung. Tapi makin lama jadi ajang adu kreativitas,” kata Wahyu (27), pelaku tongklek dari Kecamatan Palang.

Dari Tradisi Pinggiran, Kini Jadi Festival Resmi

Dari yang dulunya hanya dilakukan diam-diam karena dianggap mengganggu, kini tongklek justru difasilitasi pemkab dan dipertandingkan secara resmi.

Bahkan sejak 2018, Tuban rutin menggelar Festival Tongklek menjelang Lebaran.

Ajang ini tak main-main—peserta dari berbagai kecamatan berlomba menampilkan pertunjukan musik tongklek dengan kostum unik, koreografi, hingga aransemen layaknya marching band mini!

Sekarang tongklek sudah seperti seni pertunjukan jalanan. Anak muda jadi lebih bangga sama tradisinya sendiri.

Disukai Gen Z, Dijadikan Konten Viral

Yang menarik, tongklek kini naik daun di media sosial. Banyak Gen Z Tuban yang merekam aksi tongklek dan mengunggahnya ke TikTok dan Instagram Reels.

Tak sedikit video yang viral, bahkan dikomentari netizen dari luar daerah.

Mereka menganggap tongklek unik, kreatif, dan punya daya tarik visual tersendiri.

Beberapa grup tongklek bahkan mendapat tawaran tampil di event luar daerah, sekolah, hingga kampus.

Bagi sebagian warga, tongklek bukan cuma musik pengiring sahur—tapi bentuk perlawanan terhadap budaya instan.

Di tengah gempuran gadget, konser digital, dan budaya global, tongklek adalah bukti bahwa kreativitas lokal tetap hidup dan berkembang.

“Kami nggak perlu drum mahal. Kaleng bekas pun bisa jadi alat musik kalau niat dan kompak,” ujar salah satu anggota grup tongklek.

Tantangan ke Depan: Konsistensi dan Dukungan

Meskipun kini makin diterima, tongklek masih menghadapi tantangan: minimnya wadah latihan, peralatan terbatas, dan belum adanya pelatihan resmi.

Beberapa pelaku berharap pemerintah daerah bisa lebih serius memfasilitasi tongklek sebagai warisan budaya lokal yang hidup.

Termasuk memasukkannya ke dalam kalender pariwisata daerah. (*)

Maulana Malik Ibrahim bersama Ketua IMI Kota Surabaya Rinto Ari Rakhmanto.
Maulana Malik Ibrahim bersama Ketua IMI Kota Surabaya Rinto Ari Rakhmanto.
Editor : Amin Fauzie
#tongklek #Gen Z #musik tradisional #tradisi #ajang seni #generasi muda #Identitas budaya lokal #sahur #tuban #ramadan