RADARBONANG.ID – Di tengah hiruk-pikuk modernisasi dan gempuran budaya luar, Kabupaten Tuban tetap setia memelihara akarnya.
Salah satu tradisi yang tetap lestari dan dinanti tiap tahun adalah Manganan—ritual sedekah bumi yang bukan sekadar seremoni, tapi perwujudan rasa syukur warga desa terhadap bumi yang menghidupi.
Mulai dari desa pesisir hingga pelosok pegunungan kapur, tradisi manganan dirayakan dengan cara yang khas, meriah, dan menyentuh sisi spiritual sekaligus sosial masyarakat.
Apa Itu Manganan? Bukan Sekadar Makan Bareng!
Manganan berasal dari kata “mangan” dalam bahasa Jawa yang berarti makan.
Tapi jangan salah, ini bukan sekadar acara makan-makan biasa.
Manganan adalah ritual sedekah bumi yang dilakukan warga desa sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen dan berkah alam yang diberikan Tuhan.
Biasanya digelar setiap tahun, tepat setelah panen raya, di lapangan terbuka, halaman balai desa, hingga pinggiran sawah.
Di sinilah warga menyajikan tumpeng, hasil bumi, dan lauk pauk tradisional dalam jumlah besar untuk disantap bersama.
Rangkaian Tradisi yang Sarat Makna
Manganan diawali dengan prosesi kirab atau arak-arakan hasil bumi dari ladang atau rumah kepala desa menuju lokasi utama.
Gunungan sayur-mayur, padi, dan buah disusun rapi, dikawal para tetua adat, tokoh agama, serta warga yang mengenakan pakaian adat.
Setibanya di lokasi, dilanjutkan dengan doa bersama dipimpin tokoh agama atau sesepuh.
Mereka memanjatkan harapan agar desa terhindar dari bala, diberi kesuburan tanah, dan dilimpahi rezeki.
Barulah setelah itu, warga duduk melingkar dan menyantap makanan hasil gotong royong.
Inilah momen kebersamaan yang paling ditunggu: semua strata sosial melebur jadi satu, tanpa sekat.
“Manganan itu seperti lebaran-nya warga desa. Semua bahagia, semua berkumpul, dan yang penting: semuanya kenyang,” ujar salah satu warga sambil tersenyum.
Nuansa Pesta Rakyat yang Semakin Meriah
Dalam perkembangannya, manganan tak hanya berisi doa dan makan bersama.
Kini, banyak desa mengemasnya menjadi event budaya lokal dengan berbagai atraksi seni tradisional seperti:
- Jaranan (kuda lumping),
- Wayangan,
- Tayuban,
- Pawai budaya,
- Lomba masak tradisional,
- dan pasar malam rakyat.
Tak jarang, grup dangdut lokal pun turut memeriahkan panggung hiburan malam harinya.
Tradisi ini sukses menghidupkan ekonomi desa karena pedagang, UMKM, hingga seniman lokal turut dilibatkan.
Tradisi yang Viral di Era Digital
Menariknya, di era media sosial, manganan mulai dilirik generasi muda Tuban sebagai konten viral.
Banyak yang mendokumentasikan proses kirab, tumpeng raksasa, hingga kekompakan warga saat makan bersama, lalu membagikannya ke TikTok dan Instagram.
“Kita ingin tradisi ini dikenal luas, apalagi sekarang anak muda suka upload hal unik. Manganan itu keren dan khas banget Tuban,” kata Dimas, pemuda kreatif yang membuat vlog bertema budaya lokal.
Bukan Sekadar Budaya, Tapi Refleksi Filosofi Jawa
Tradisi manganan memuat filosofi mendalam: hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Ini adalah wujud nyata konsep “memayu hayuning bawana”—menjaga keseimbangan dunia dengan rasa syukur dan harmoni.
Manganan juga mengajarkan pentingnya gotong royong, solidaritas, serta menjaga tradisi leluhur sebagai identitas yang tak lekang waktu.
Namun, tak bisa dimungkiri bahwa tantangan datang dari waktu ke waktu.
Sebagian generasi muda mulai enggan terlibat karena menganggap manganan kuno dan membosankan.
Oleh karena itu, sejumlah desa mulai berinovasi dengan menggelar manganan tematik, lomba konten kreator budaya, hingga festival kuliner khas desa.
Harapannya, tradisi ini tak hanya dilestarikan, tapi terus hidup dan relevan di mata generasi digital. (*)
Editor : Amin Fauzie