RADARBONANG.ID – Bukan rahasia lagi kalau Jawa Timur adalah gudangnya seni dan budaya tradisional yang kuat akar sejarahnya.
Tapi tahukah kamu? Di balik meriahnya atraksi budaya seperti Reog, Gandrung, atau Ludruk, ada sosok-sosok luar biasa yang berjasa menghidupkan dan melestarikannya.
Berikut ini adalah 10 budaya lokal paling ikonik di Jawa Timur lengkap dengan tokoh pelestari atau pencetusnya, yang wajib kamu kenali sebagai bagian dari identitas bangsa:
1. Reog Ponorogo – Ponorogo
Reog bukan sekadar tontonan spektakuler dengan topeng Singo Barong seberat 50 kilogram.
Dia adalah ekspresi perlawanan, simbol kekuatan rakyat terhadap kekuasaan yang menindas.
Sosok Ki Ageng Kutu tercatat dalam sejarah sebagai pencetus seni Reog.
Dia memadukan unsur mistik, bela diri, dan satire politik dalam balutan seni pertunjukan. Kini, Reog tak hanya tampil di panggung nasional, tapi juga menjadi duta budaya Indonesia ke dunia.
2. Ludruk – Surabaya
Teater rakyat ini selalu hadir dengan banyolan cerdas dan kritik sosial.
Lewat dialog ngoko khas Jawa Timuran, Ludruk berbicara tentang realitas.
Cak Durasim, seniman legendaris, adalah wajah perlawanan lewat seni.
Kalimatnya yang melegenda, “Sekali melawan tetap melawan!” menjadi simbol bahwa Ludruk lebih dari hiburan—ia adalah suara rakyat kecil.
3. Tari Gandrung – Banyuwangi
Lahir dari rasa syukur masyarakat Osing atas panen melimpah, Tari Gandrung kini menjadi ikon Banyuwangi yang mendunia.
Nama Temuk, penari Gandrung pertama, hingga budayawan I Ketut Marya, dikenal sebagai pelestari bentuk Gandrung modern.
Festival Gandrung Sewu tiap tahun menjadi bukti bahwa tarian ini terus hidup di hati masyarakat.
4. Karapan Sapi – Madura
Balapan sapi khas Madura ini bukan sekadar adu cepat, tapi juga pertarungan gengsi sosial para pemilik sapi.
Diyakini, Raden Ayu Galuh, seorang bangsawan Madura, memperkenalkan Karapan Sapi dalam rangkaian upacara kerajaan.
Kini, budaya ini jadi atraksi utama wisata Madura yang penuh tradisi.
5. Wayang Topeng Malangan – Malang
Pertunjukan wayang dengan topeng ini menghadirkan lakon Panji dan Mahabharata dalam balutan moral dan edukasi.
Ki Atmo Karyo, dalang asal Malang, adalah sosok sentral yang berjasa menghidupkan kembali wayang ini setelah sempat tenggelam oleh arus zaman.
6. Jaranan Buto – Jember
Jaranan Buto tampil beda. Gerakan keras, topeng raksasa, hingga atraksi kesurupan menjadikannya tontonan yang ekstrem dan sakral.
Di balik popularitasnya ada Drs. Suparlan, budayawan Jember yang tanpa lelah mengangkat Jaranan Buto ke panggung nasional melalui festival budaya rutin.
7. Tayub – Bojonegoro
Tarian yang akrab dalam suasana hajatan ini menyiratkan silaturahmi dan kebersamaan.
Diiringi gamelan dan tembang khas Jawa, Tayub adalah ruang pertemuan antarwarga.
Sosok Ledhek Srimpi, seniman Tayub senior, dikenal menolak komersialisasi berlebihan.
Ia menjaga ruh Tayub tetap murni sebagai ekspresi budaya, bukan sekadar hiburan panggung.
8. Beskalan – Malang
Tari penyambutan ini memancarkan kelembutan dan keramahan. Gerakannya anggun, sering ditampilkan dalam upacara penyambutan tamu agung.
Mbah Rasmi, perempuan sepuh dari Tumpang, Malang, adalah pelestari Beskalan klasik yang menjaga keaslian tarian ini tetap lestari di tengah modernisasi.
9. Tari Remo – Jombang / Surabaya
Tari pembuka dalam pentas Ludruk ini dikenal dengan hentakan kaki dan semangat gagah penarinya.
Ki Hadi Sugito, dalang sekaligus koreografer, menyempurnakan bentuk Tari Remo hingga menjadi ikon budaya Jawa Timur dan sering ditampilkan di acara resmi.
10. Larung Sesaji – Tulungagung / Trenggalek
Tradisi melarung sesaji ke laut adalah bentuk syukur dan permohonan keselamatan.
Digelar di pantai seperti Popoh dan Prigi, ritual ini memadukan spiritualitas dan kearifan lokal.
Pelaksanaan ritual ini tak lepas dari peran tokoh adat dan para nelayan setempat, yang menjaga kesakralan upacara dan memastikan tradisi terus diturunkan ke generasi muda.
Budaya Tak Akan Mati, Jika Ada Tokoh dan Generasi yang Merawatnya
Setiap kebudayaan lokal di atas bukan hanya tontonan, tapi identitas dan kearifan lokal yang harus dirawat bersama.
Di balik seni dan tradisi itu, terdapat sosok luar biasa yang berjasa dalam penciptaan, pelestarian, hingga regenerasi.
Dengan mengangkat kembali nama-nama tokoh di balik budaya ini, diharapkan generasi muda bisa lebih menghargai warisan leluhur dan membawa kebudayaan lokal ke panggung yang lebih luas. (*)