RADARBONANG.ID - Dalam budaya Jawa, makan bukan hanya sekadar aktivitas fisik untuk mengisi perut. Di balik setiap kebiasaan, tersimpan nilai-nilai luhur dan nasihat penuh makna yang diwariskan turun-temurun.
Salah satu pesan yang kerap disampaikan para orang tua, terutama ibu, adalah larangan berpindah-pindah tempat duduk saat makan.
Nasihat ini ternyata bukan sekadar mitos, tetapi mengandung filosofi dan etika hidup yang mendalam.
Ungkapan Jawa yang sering dikatakan ibu kepada anak-anaknya, "Ojo ngolah ngaleh panggon nek mangan", berarti "jangan berpindah-pindah tempat saat makan".
Dalam kepercayaan orang Jawa, berpindah tempat duduk saat makan bisa membawa dampak buruk di masa depan, khususnya dalam urusan pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Jika seseorang makan sambil berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang tarafnya setara atau bahkan lebih rendah, diyakini kelak akan sering berpindah pekerjaan dan tidak memiliki pekerjaan tetap.
Sebaliknya, jika pindah tempat makan ke posisi yang lebih baik—misalnya dari lantai ke kursi makan—hal ini justru dianggap sebagai simbol kenaikan derajat.
Konon, hal tersebut bisa membawa rezeki, kenaikan jabatan, atau kesempatan kerja yang lebih baik.
Makan Sambil Jalan Juga Dianggap Tidak Baik
Masih dalam ranah etika makan versi tradisi Jawa, makan sambil berjalan juga diyakini membawa nasib kurang baik.
Dalam kepercayaan masyarakat, perempuan yang sering makan sambil berjalan berpotensi menjadi perawan tua, sementara laki-laki bisa menjadi joko tuwek alias bujangan tua.
Larangan ini sebenarnya lebih kepada etika dan kedisiplinan dalam makan, agar seseorang menghargai momen makan dengan baik dan tidak dilakukan secara sembarangan.
Larangan Makan di Depan Pintu
Nasihat lain yang sering disampaikan adalah tidak makan di depan pintu. Dalam pandangan masyarakat Jawa, hal ini diyakini bisa mengundang gunjingan dari orang lain.
Selain mengganggu pandangan dan lalu lintas orang di rumah, makan di depan pintu juga dianggap tidak sopan secara estetika dan sosial.
Makan Harus Habis
Ibu juga sering mengingatkan agar makanan yang diambil harus dihabiskan. Mitosnya, jika makanan tidak dihabiskan, maka ayam peliharaan bisa mati.
Meski terdengar seperti dongeng, pesan ini memiliki makna mendalam: ajarkan anak untuk tidak membuang makanan dan bertanggung jawab atas apa yang telah ia ambil.
Memang, sebagian orang mungkin menganggap hal-hal di atas sebagai mitos belaka.
Namun jika ditelaah lebih jauh, pesan-pesan tersebut merupakan bentuk etika hidup yang ditanamkan secara halus melalui budaya.
Tidak berpindah tempat saat makan, makan dengan sopan, tidak menyisakan makanan—semua itu sebenarnya adalah nilai-nilai kesopanan, tanggung jawab, dan ketertiban yang bisa membentuk karakter seseorang sejak dini.
Budaya Jawa memang menyimpan banyak kearifan lokal yang dikemas dalam nasihat-nasihat sederhana.
Di balik pesan itu, tersirat nilai pendidikan karakter, etika sosial, dan spiritualitas yang patut dilestarikan.
Entah dianggap sebagai mitos atau tidak, nasihat ibu dalam tradisi Jawa tetap relevan sebagai pedoman hidup yang baik, terutama dalam membentuk kebiasaan dan etika makan yang penuh makna. (*)
Editor : Amin Fauzie