RADARBONANG.ID - Dalam budaya masyarakat Jawa, menjaga ketersediaan sejumlah barang di rumah dipercaya memiliki kaitan erat dengan kelancaran rezeki.
Meski terdengar sederhana, tradisi ini masih dijaga dan diwariskan secara turun-temurun oleh banyak keluarga hingga kini.
Beras, garam, dan air misalnya, adalah tiga barang yang menurut pesan orang tua, tidak boleh sampai benar-benar habis dari rumah.
“Beras karo uyah ojo sampe kesatan, yen kari sithik ndang cepet-cepet tuku, ben rezekine gak kesatan,” begitu nasihat ibu kepada anaknya dalam bahasa Jawa, yang berarti: beras dan garam jangan sampai habis, kalau tinggal sedikit segera beli agar rezeki tidak ikut habis.
Lalu, apa makna di balik keyakinan tersebut? Berikut penjelasannya:
1. Beras
Dalam budaya Jawa, beras bukan hanya makanan pokok, tetapi juga simbol kemakmuran dan keberkahan.
Kehabisan beras di rumah sering dianggap sebagai pertanda kurang baik.
Oleh karena itu, stok beras harus selalu tersedia agar aliran rezeki dalam rumah tangga tetap lancar.
2. Garam
Garam atau dalam bahasa Jawa disebut uyah, juga memiliki makna penting dalam tradisi Jawa.
Selain sebagai bumbu dapur, garam dipercaya mampu menjaga keseimbangan dan keharmonisan rumah tangga.
Kehabisan garam dianggap bisa mengganggu energi positif di rumah, yang pada akhirnya berdampak pada kelancaran rezeki serta hubungan antaranggota keluarga.
3. Air
Air menempati posisi vital sebagai simbol kehidupan. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, terdapat nasihat:
"Banyu neng kendhi ojo sampe’ sat, nek entek ndang diisi," yang berarti air dalam kendhi (wadah air minum khas Jawa) jangan sampai habis, kalau habis segera isi kembali.
Keyakinan ini sejalan dengan prinsip feng shui, di mana air yang mengalir lancar di rumah dipercaya membawa energi positif dan keberuntungan.
Sebaliknya, saluran air yang tersumbat atau kran yang bocor dianggap dapat menghambat datangnya rezeki.
Itulah sebabnya, tandon air minum yang ada di rumah harus dijaga agar tidak sampai kosong.
Mitos atau Fakta? Ini Dampak Psikologisnya
Terlepas dari apakah keyakinan ini hanya mitos atau fakta, menjaga ketersediaan barang-barang tersebut secara psikologis memberi dampak positif.
Rumah yang kebutuhan pokoknya terjaga akan menciptakan rasa aman, tenang, dan nyaman bagi seluruh penghuni.
Dan kondisi ini tentu berpengaruh pada suasana hati dan produktivitas, yang secara tidak langsung membuka jalan bagi kelancaran rezeki.
Selain itu, inilah salah satu cara sederhana untuk menghormati pesan orang tua sekaligus menjaga keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. (*)
Editor : Amin Fauzie