RADARBONANG - Nilai-nilai kearifan lokal Jawa kebanyakan mengajarkan kita tentang bagaimana cara menjalani hidup dengan baik, bagaimana "laku urip" kita sehari-hari.
Laku urip itu sebenarnya apa saja yang kita lakukan dalam hidup ini untuk menuju satu tujuan. Contohnya, jika ingin semakin dekat dengan sang pencipta, maka lakunya adalah beribadah.
Di tengah kehidupan modern ini, falsafah hidup tersebut masih relevan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangat kuat, mengajarkan kita pada kebaikan.
Nah, dalam menjalani kehidupan, ada pepatah mengatakan "nrimo ing pandum, tepa slira, eling lan waspada."
Maksudnya kita hendaknya tidak mengeluh atas nikmat yang diberikan sang pencipta. Selalu merasa cukup dan bersyukur atas apa yang kita miliki.
Selain itu, ketika kita diberi sesuatu yang lebih, maka kita harus berusaha untuk menjadi rendah hati, mengingat bahwa segala hal berasal dari sang pencipta. Apa yang kita punya hanyalah titipan.
Selalu "eling lan waspada," ingat bahwa apa yang kita miliki bukan sepenuhnya milik kita, selalu waspada agar tidak bersikap sombong dan berakhir dengan buruk.
Untuk itu, kita perlu menerapkan gaya hidup yang lebih bijak dan seimbang. Kita harus pandai-pandai mengatur apa yang kita miliki, bersyukur atas apa yang kita punya, sehingga tidak akan merasa iri atau bahkan sombong ketika melihat orang-orang di sekitar kita.
Untuk menjadi lebih bijak, tentunya kita harus belajar untuk tidak mengeluh.
Dan keseimbangan akan bisa kita peroleh ketika kita mampu untuk mengendalikan diri sendiri dari perasaan iri hati, kesombongan, dengki terhadap orang lain, maupun yang lainnya.
Ketika kita sudah mampu mengendalikan semua itu, maka hidup akan menjadi lebih seimbang. Kita tidak lagi Mudah terpengaruh dan menjadi lebih bersyukur terhadap apa yang kita miliki.
Kearifan lokal khususnya filosofi atau falsafah masyarakat Jawa dapat menjadi solusi ketika kita merasa stres terhadap keadaan.
Filosofi-filosofi itu akan mengingatkan kita bahwa mungkin saja ada yang kurang dalam diri kita sehingga rasa syukur itu juga belum sepenuhnya ada.
Nrimo ing pandum, mengajarkan kita untuk mengingat, bahwa rezeki setiap orang berbeda-beda, masalah yang dimiliki setiap orang juga berbeda-beda.
Tergantung bagaimana cara mereka menyikapi hal-hal tersebut. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama