RADARBONANG - Buat masyarakat Jawa, tradisi leluhur itu kayak harta karun—dipegang erat, diwariskan turun-temurun.
Salah satu tradisi yang masih eksis sampai sekarang adalah weton, terutama kalau udah ngomongin soal pernikahan.
Intinya, weton dipakai buat meramal masa depan hubungan calon pengantin berdasarkan tanggal dan bulan lahir mereka.
Tapi, masalah sering muncul ketika orang tua atau wali calon pengantin nggak setuju sama hitungan weton. Kadang rencana nikah bubar cuma karena dianggap "nggak cocok". Lantas, gimana Islam memandang hal ini?
Weton dalam Perspektif Islam
Islam tegas soal keyakinan: percaya bahwa weton punya pengaruh besar sampai bisa bikin rumah tangga nggak harmonis itu haram.
Kenapa? Karena itu berarti kita percaya ada kekuatan lain selain Allah yang bisa menentukan nasib. Sama halnya kayak orang sakit yang yakin obatlah yang menyembuhkan, padahal sejatinya yang memberi kesembuhan itu Allah.
Kalau Jadi Kebiasaan?
Nah, beda cerita kalau weton dianggap sebagai hasil kebiasaan yang berulang dan terbukti. Misalnya, karena kebetulan ada pola tertentu antara weton dengan nasib pernikahan, orang jadi percaya.
Dalam kasus ini, mempercayai weton boleh saja, tapi nggak mutlak. Sama kayak percaya obat bisa menyembuhkan, tapi tetap harus diyakini kalau Allah yang menentukan segalanya.
Sikap yang Bijak
Sebagai Muslim, kita disarankan buat selalu husnuzan (berbaik sangka) kepada Allah. Apapun weton-nya, hari lahir atau bulan pernikahan itu semuanya baik kalau kita percaya sama ketetapan-Nya.
Jadi, posisi weton dan nasib pernikahan itu nggak punya hubungan pasti. Yang menentukan semuanya adalah Allah. Wallahu a’lam. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama