Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Tibo, Nyungsep, Njungkel: Ragam Diksi Jatuh dalam Bahasa Jawa

M. Afiqul Adib • Selasa, 4 Maret 2025 | 17:10 WIB
Budaya Jawa yang kaya akan filosofi makna.
Budaya Jawa yang kaya akan filosofi makna.

RADARBONANG - Siapa yang nggak pernah lihat seseorang tibo? Di mata orang Jawa, jatuh itu nggak cuma soal terjatuh secara fisik, tapi juga soal cara jatuhnya. Secara umum, orang Jawa memakai kata “tibo” untuk menggambarkan jatuh.

Tapi, jangan salah, kata tibo ini bisa diperkaya dengan keterangan tambahan, misalnya “tibo mengarep” untuk jatuh ke depan.

Di sini, kita nggak perlu ribet-ribet pakai kalimat panjang hanya buat bilang “jatuh ke depan”. Cukup satu kata, udah bisa nyeritain tragedi jatuhnya seseorang dengan gaya santuy.

Nah, kalau bicara soal jatuh ke depan, Bahasa Jawa punya koleksi istilah yang unik. Misalnya, kalau seseorang tibo ke depan karena terdorong dan menabrak sesuatu, itu disebut “nyungsep”.

Bayangkan, kamu lagi asyik berjalan terus tiba-tiba nyungsep ke semak-semak—udah kayak adegan komedi, tapi tetap nyakitin. Terus, kalau jatuhnya sampai terlempar dari suatu objek, nah itu sudah dijuluki “njlungup”.

Belum lagi, kalau muka kamu malah meluncur di lantai, itu baru “nyosop”. Semua kata itu, meski terdengar lucu, sebenarnya bisa langsung memberi tahu situasi dengan tepat tanpa basa-basi.

Gak cuma jatuh ke depan, jatuh ke belakang pun punya istilah sendiri. Kalau terjungkal ke belakang, orang Jawa akan bilang “njungkel”.

Kadang, kata ini juga dipakai buat jatuh ke depan dalam keadaan terjungkal, tapi bisa dikembangkan lagi kalau terjatuh sambil bersuara “blag!” alias disebut “nggeblag”.

Dari sini, kita lihat betapa detilnya Bahasa Jawa dalam mengomunikasikan berbagai jenis kejatuhan. Bahkan, ada istilah untuk jatuh saat kecelakaan motor, yakni “ngglangsar”, atau jatuh yang tergesek dinding, yang disebut “nggasruk”.

Jatuh vertikal, misalnya dari puncak gedung atau jatuhnya buah dari pohon, dikenal sebagai “ciblok”. Kalau kamu jatuh tengkurap, mirip seperti lagi renang, itu disebut “ndlosor”.

Sementara jatuh ke samping akan kita sebut “nglimpang”, dan jika benturan keras terjadi terutama di kepala, maka namanya “nggledag”.

Yang bikin unik, semua istilah di atas memakai awalan “n” sebagai bentuk ater-ater. Misalnya, kata “njungkel” berasal dari kata dasar “jungkel” yang diberi awalan “n” karena sedang dikerjakan. Saya jadi makin kagum dengan keragaman istilah jatuh dalam Bahasa Jawa.

Budaya Jawa emang peduli sama setiap momen jatuh, sepele sekalipun, sehingga setiap jenis kejatuhan bisa diungkap dengan kata yang ringkas dan tepat.

Dengan begitu, tragedi jatuhnya umat manusia—entah itu kecelakaan atau sekadar momen lucu sehari-hari—langsung dipahami tanpa perlu penjelasan bertele-tele. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#diksi #budaya #bahasa jawa #jatuh