RADARBONANG - Tokoh sejarah di zaman Kerajaan selalu dikaitkan dengan kesaktiannya.
Salah satu tokoh tersebut adalah Mpu Bharada yang hidup pada masa Kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Raja Airlangga.
Namun, apakah kamu tahu siapa Mpu Bharada itu?
Dilansir dari Kompas.com, sosok Mpu Bharada merupakan seorang pendeta yang menjadi penasihat sakti Raja Airlangga, yang kemudian membelah kerajaan Kahuripan menjadi dua bagian, yaitu Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Panjalu atau biasa disebut Kediri.
Pada suatu masa, Raja Airlangga memutuskan untuk turun takhta, dan ingin mewariskannya kepada putrinya, Sri Sanggramawijaya Dharmmaprasadottunggadewi. Akan tetapi, sang putri menolak karena ingin hidup sebagai seorang petapa.
Meski begitu, sang putri masih memiliki seorang adik bernama Mapanji Garasakan. Namun, masalah muncul ketika Samarawijaya, putra dari Dharmawangsa Teguh menuntut haknya atas Kerajaan Medang.
Akibat hal tersebut, terjadilah perang saudara (990 - 1049 M). Untuk menghentikan perang itu, Mpu Bharada membelah Pulau Jawa dan menyegel batas-batasnya dengan kutukan. Dikutip dari postingan akun Instagram @asisichannel pada Minggu (9/2).
Saking kuatnya batas gaib yang dibuat sang Mpu, untuk mematahkan batas itu, pada zaman Majapahit dibuatlah Candi Prajnaparamitapuri di Bayalangu.
Menurut Negarakertagama, yang memberkati Candi itu adalah Mahapendeta Jnyanawidi yang diyakini sebagai jelmaan dari Mpu Bharada.
Dalam lontar Calon Arang (1540 M), diceritakan dengan epik tentang kesaktian Mpu Bharada yang dapat menyembuhkan banyak orang, bahkan mampu menghidupkan orang yang telah meninggal selama mayatnya belum rusak.
Kesaktian lainnya, yaitu ia mampu menciptakan gempa bumi, meskipun pada akhirnya masih kalah taktik dengan saudaranya yang bernama Mpu Kuturan yang memagari Pulau Bali dengan tsunami.
Sumber tertua yang membahas mengenai tokoh ini adalah Prasasti Wurare (1289 M), Prasasti yang dikeluarkan oleh Maharaja Kertanegara pada 1268 -1292 M yang bisa dilihat di Arca Joko Dolog yang letaknya di Surabaya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama