RADARBONANG- Sejarah Kerajaan, khususnya Majapahit tak lepas dari kekuasaan dan politik. Ya, hal-hal seperti taktik politik dan kekuasaan memang sudah ada sejak zaman dulu.
Namun, apakah kamu tahu bahwa di dalam sejarah Majapahit ternyata ada 2 Politikus yang dianggap licik? Simak fakta berikut ini!
1. Arya Wiraraja
Arya Wiraraja dikenal sebagai sosok ayah dari Adipati Tuban, Ranggalawe. Dia juga merupakan orang yang berperan penting dalam berdirinya Kerajaan Majapahit.
Bersumber dari buku berjudul Pesona dan Sisi Kelam Majapahit yang ditulis oleh Sri Wintala Achmad, Arya Wiraraja menggunakan taktik politik "Nabok Nyilih Tangan."
Pada masa pemerintahan Raja Kertanagara di Kadiri (1254 -1292), jabatan Arya Wiraraja adalah Demung, yang merupakan tokoh penting sesudah Raja.
Akan tetapi, jabatannya ini dicopot setelah dia menentang kebijakan Kertanagara yang dinilai otoriter. Kemudian, ia ditempatkan di Sumenep sebagai seorang Bupati atau Adipati.
Hal inilah yang menyebabkan Arya Wiraraja mengambil langkah balas dendam. Pertama-tama dia mendekati Jayakatwang (Bupati Gelanggelang/Kadiri) dan membujuknya untuk melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan Kertanagara di Singhasari.
Buju rayu itu berhasil, Jayakatwang memberontak dan berhasil mengambil kekuasaan dari Kertanagara. Raja Kertanagara beserta pengikutnya tewas, sementara menantunya, Dyah Wijaya beserta pengikutnya yang berhasil lolos mencari perlindungan di Sumenep pada Arya Wiraraja.
Sesudah berhasil menggulingkan Kertanagara melalui Jayakatwang, ia menyusun siasat baru untuk mendapatkan kekuasaan melalui Dyah Wijaya.
Seperti yang kita tahu, pada akhirnya mereka berhasil mendirikan Pedukuhan Tarik (Majapahit) di Hutan Tarik. Kebetulan pada saat itu, setelah Pedukuhan mengalami kemajuan, pasukan Tartar (Mongol) datang ke tanah Jawa untuk membalas dendam kepada Kertanagara. Mereka tidak tahu bahwa pemegang kekuasaan telah berganti.
Arya Wiraraja menyarankan kepada Dyah Wijaya untuk memanfaatkan pasukan Tartar untuk menggulingkan Jayakatwang.
Setelah berhasil, mereka mengusir pasukan Tartar dari tanah Jawa, lalu berdirilah Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Dyah Wijaya, lalu Arya Wiraraja diangkat menjadi Pasangguhan.
Ketika terjadi konflik saat Ranggalawe menentang Dyah Wijaya karena menjadikan Nambi sebagai Patih, dan berakhir dengan gugurnya Ranggalawe di Sungai Tambak Beras, Arya Wiraraja menghadap dan menagih janji Dyah Wijaya untuk membagi wilayah Majapahit menjadi dua karena menganggap Ranggalawe telah dijadikan tumbal perang antara Tuban dengan Majapahit.
Setelah itu, Arya Wiraraja dinobatkan sebagai Raja Majapahit Timur yang beribukota di Lumajang.
2. Halayuda
Nama Halayuda hanya ditemukan dalam Kakawin Nagarakertagama dan Prasasti Sidateka (1323). Tokoh ini diduga memiliki hubungan dekat dengan Dyah Wijaya oleh para Sejarawan.
Pada masa ketika terjadi konflik antara Ranggalawe dengan Dyah Wijaya akibat menentang keputusan sang Raja untuk menjadikan Nambi sebagai Patih, Ranggalawe meninggalkan Majapahit dan pulang ke Tuban akibat rasa kecewanya.
Halayuda memanfaatkan itu untuk memberi laporan palsu saat Ranggalawe berada di Tuban. Dia mengatakan bahwa Ranggalawe telah bersiap untuk memberontak.
Akibatnya, timbul perang antara Majapahit dengan Tuban yang mengakibatkan gugurnya Ranggalawe di Sungai Tambak Beras oleh Mahisa Nabrang. Kemudian, Mahisa Nabrang gugur di tangan Lembu Sora yang tidak terima atas kematian keponakannya.
Halayuda memberitahu Dyah Wijaya tentang terbunuhnya Mahisa Nabrang di tangan Lembu Sora. Akibatnya, Lembu Sora dijatuhi hukuman buang di Tulembang.
Dengan dukungan Gajah Biru dan Juru Demung, Lembu Sora melakukan protes, tetapi sebelum dapat menghadap Dyah Wijaya, mereka lebih dulu dibunuh beramai-ramai oleh pasukan Raja di Halaman Istana Majapahit.
Tujuan Halayuda untuk menjadi Patih tinggal selangkah lagi, yaitu dengan menyingkirkan Nambi.
Saat Jayanagara naik takhta menggantikan Dyah Wijaya, peluang itu akhirnya muncul. Saat Nambi berada di Lumajang karena ayahnya, Pranaraja meninggal, Halayuda melapor kepada Jayanagara bahwa Nambi sedang menyusun kekuatan untuk memberontak terhadap Majapahit.
Akhirnya, Jayanagara menangkap dan membunuh Nambi. Setelah itu, Halayuda mencapai tujuannya, ia menjadi seorang Patih Majapahit.
Namun, setelah segala siasat liciknya terbongkar, Halayuda dilengserkan dari jabatan Patih, dan dihukum mati dengan cara cineleng-celeng (dicabik-cabik) oleh Bekel Jaka Mada. (*)