RADARBONANG.ID - Kalender Cina, atau yang lebih dikenal sebagai kalender Imlek, memiliki sejarah panjang yang tidak hanya berfungsi sebagai sistem penanggalan biasa.
Kalender ini menjadi bagian penting dari budaya Tionghoa, terutama dalam perayaan Tahun Baru Imlek.
Perayaan Imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama berdasarkan kalender ini, dan diakhiri dengan Cap Go Meh pada hari ke-15, yang bertepatan dengan bulan purnama.
Malam pergantian tahun baru dikenal sebagai Chuxi (除夕), yang berarti "malam sebelum tahun baru."
Awal Mula Kalender Cina
Kalender Imlek awalnya berbasis pada pergerakan semu Matahari, yang dikenal sebagai kalender solar.
Menurut penelitian Andi Pangerang dari BRIN, satu tahun dalam kalender awal ini dibagi menjadi lima fase, yang masing-masing mewakili elemen dalam filosofi Wuxing: kayu, api, tanah, logam, dan air.
Setiap fase berlangsung selama 72 hari dan dibagi menjadi dua bulan, masing-masing terdiri dari 36 hari.
Dengan demikian, setahun terdiri dari 10 bulan dan totalnya hanya 360 hari.
Pada era Dinasti Shang (1600–1046 SM), sistem ini mulai disesuaikan.
Dari yang awalnya berfokus pada lima elemen, kalender ini kemudian lebih menyesuaikan dengan siklus empat musim.
Perubahan ini menjadi cikal bakal kalender Tionghoa yang dikenal sebagai nongli, atau "kalender bertani."
Evolusi Kalender dari Masa ke Masa
Perubahan besar berikutnya terjadi di masa Dinasti Zhou Barat (1046–771 SM).
Saat itu, diperkenalkan sistem kalender yang lebih seimbang, semacam prototipe kalender lunisolar.
Berbeda dengan sistem sebelumnya, awal tahun kalender ini dimulai pada Solstis Musim Panas, yaitu ketika Matahari mencapai titik tertinggi di langit.
Kemudian, di era Dinasti Zhou Timur (771–256 SM), kalender lunisolar mulai diterapkan sepenuhnya.
Dalam sistem ini, awal tahun dimulai dari bulan baru sebelum Solstis Musim Dingin. Kalender ini dikenal dengan nama kalender Zhou.
Kalender Cina terus mengalami penyempurnaan hingga mencapai bentuk yang lebih mapan pada masa Dinasti Ming (1368–1644). Kalender yang dikenal sebagai Shixian atau Chongzhen memperkenalkan aturan bulan kabisat yang disesuaikan dengan interval tertentu antara dua bulan baru.
Aturan ini menjadi dasar kalender Imlek yang digunakan hingga sekarang.
Lebih dari Sekadar Penanggalan
Kalender Imlek bukan hanya soal penanggalan, tetapi juga mencerminkan harmoni antara alam dan kehidupan manusia.
Setiap elemen dalam kalender ini, mulai dari elemen Wuxing hingga perhitungan musim, menggambarkan hubungan erat antara manusia dan siklus alam.
Oleh karena itu, Imlek bukan hanya perayaan, tetapi juga penghormatan terhadap tradisi, keseimbangan, dan waktu.
Dengan sejarah dan filosofi yang begitu mendalam, menghitung waktu dengan kalender ini terasa lebih indah dan bermakna. (*)
Editor : Amin Fauzie