RADARBONANG.ID - Kalau ngomongin budaya lokal Indonesia, mungkin yang langsung terpikir adalah gamelan, wayang, atau batik.
Tapi ada satu tradisi sederhana yang mungkin terdengar sepele, tapi sebenarnya punya akar budaya yang panjang dan makna mendalam: tradisi petan, atau lebih gampangnya, cari kutu.
Tunggu dulu! Tradisi ini bukan sekadar soal membersihkan kutu rambut, tapi juga momen seru buat rasan-rasan alias ngobrol santai—yang sering kali berubah jadi ajang gosip.
Siapa sangka, kegiatan sederhana ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sejak zaman nenek moyang kita?
Petan: Lebih dari Sekadar Cari Kutu
Dulu, sebelum ada media sosial yang bikin kita sibuk scrolling, ibu-ibu di pedesaan punya cara unik untuk mengisi waktu.
Mereka duduk berkelompok, saling mencari kutu di rambut masing-masing.
Tapi sebenarnya, “ritual” ini lebih dari sekadar berburu kutu. Petan jadi momen buat saling curhat, berbagi cerita, dan tentu saja, rasan-rasan.
Di masa itu, menjaga kebersihan memang bukan hal mudah karena keterbatasan akses air bersih dan fasilitas mandi.
Jadi, kutu rambut pun sering menjadi "tamu tetap."
Tradisi petan hadir sebagai solusi praktis sekaligus ajang mempererat hubungan sosial di antara ibu-ibu.
Dari Relief Candi ke Warung Kopi
Menariknya, tradisi petan ini bukan cuma cerita turun-temurun.
Di Candi Surowono, Kediri, yang dibangun pada 1388, ada relief yang menggambarkan momen orang-orang sedang melakukan petan.
Jadi, bisa dibilang, kegiatan ini sudah ada sejak zaman kerajaan!
Cepat maju ke era sekarang, tradisi petan mungkin sudah jarang ditemui secara fisik.
Tapi, esensinya—rasan-rasan—masih hidup subur. Bedanya, kalau dulu gosip berlangsung di atas tikar sambil cari kutu, kini generasi milenial dan Gen Z melakukannya di warung kopi, grup WhatsApp, atau bahkan kolom komentar media sosial.
Medianya berubah, tapi semangatnya tetap sama: ngobrol santai, berbagi cerita, dan, ya, sedikit bergosip.
Meski tradisi cari kutu mungkin sudah jadi masa lalu, nilai sosialnya masih relevan.
Tradisi ini mengajarkan kita pentingnya berkumpul, mendengarkan cerita satu sama lain, dan mempererat hubungan.
Dalam bentuk yang berbeda, jiwa petan tetap hadir di keseharian kita.
Jadi, kalau ada yang bilang orang Indonesia itu "juara gosip," bisa jadi ada benarnya juga.
Tapi kita nggak cuma gosip, kok—kita menjaga budaya, mempererat hubungan sosial, dan merawat tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.
Siapa bilang ngobrol santai nggak punya makna? (*)