Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Musim Baratan: Tantangan dan Berkah yang Hadir di Akhir Tahun bagi Warga Pesisir

M. Afiqul Adib • Rabu, 11 Desember 2024 | 22:45 WIB
Remis, kerang kecil yang muncul saat musim baratan. Foto adalah ilustrasi.
Remis, kerang kecil yang muncul saat musim baratan. Foto adalah ilustrasi.

RADARBONANG.ID - Musim Baratan, siapa yang tidak kenal? Kalau kamu tinggal di kawasan pesisir utara Jawa, terutama di daerah seperti Tuban, musim ini pasti sudah jadi bagian dari keseharian di akhir tahun.

Istilah Baratan sendiri diambil dari arah angin barat laut yang dominan saat musim ini berlangsung.

Biasanya, Baratan mulai terasa dari November sampai Februari, lengkap dengan angin kencang, hujan deras, dan gelombang laut yang besar.

Bagi masyarakat pesisir, musim Baratan punya dua sisi: kadang jadi momok menakutkan, kadang jadi momen penuh berkah.

Memang, angin kencang dan gelombang tinggi sering membawa risiko seperti pohon tumbang, rumah rusak, hingga pelayaran yang terhambat.

Apalagi, nelayan harus ekstra hati-hati kalau mau melaut. Tapi, di balik semua tantangan itu, ada berkah tersendiri yang bikin musim ini dinanti-nanti.

Contohnya di Desa Pabeyan, Kecamatan Bancar, Tuban. Di sini, musim Baratan justru dinikmati karena jadi waktu panen remis, kerang kecil yang banyak muncul saat gelombang pasang.

Buat warga, ini seperti pesta tahunan. Mereka nggak perlu jauh-jauh melaut, cukup di pinggir pantai saja sudah bisa dapat remis dalam jumlah besar.

Hasil panen remis ini bukan cuma jadi penghasilan tambahan, tapi juga momen kebersamaan yang bikin warga makin kompak.

Remis-remis yang dipanen biasanya diolah jadi hidangan khas seperti oseng remis—hmm, kebayang gurihnya, kan?

Atau kalau nggak, mereka jual di pasar lokal dengan harga yang lumayan buat nambah pemasukan.

Tapi tentu saja, musim Baratan juga butuh kewaspadaan. Gelombang besar bisa menyebabkan abrasi pantai, banjir, bahkan merusak infrastruktur desa.

Karena itu, warga sering bergotong royong memperkuat tanggul dengan karung pasir atau bahan lain demi menjaga desa mereka tetap aman.

Di sisi lain, pemerintah setempat juga punya peran penting, nih. Edukasi soal keselamatan dan bantuan untuk masyarakat sangat diperlukan biar musim ini bisa dilewati tanpa masalah besar.

Selain itu, mitigasi risiko seperti membuat sistem peringatan dini atau memperkuat infrastruktur juga nggak kalah penting.

Musim Baratan ini seperti dua sisi koin—di satu sisi penuh tantangan, di sisi lain menawarkan peluang.

Kalau kita jeli, ada banyak hikmah di balik fenomena alam ini. Seperti halnya remis yang tersembunyi di balik gelombang besar, berkah dari Baratan cuma bisa diraih oleh mereka yang berani dan tahu cara memanfaatkannya.

Jadi, musim Baratan ini sebenarnya ngajarin kita satu hal: setiap kejadian pasti ada hikmahnya.  (*)

Editor : Amin Fauzie
#kerang #musim #nelayan #Pasang #baratan #warga #pesisir #Gelombang Besar #tuban #remis