Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Bukan Klenik, Ternyata Begini Asal-Usul Hari Pasaran Jawa

M. Afiqul Adib • Selasa, 3 Desember 2024 | 20:35 WIB
Ilustrasi kalender dengan weton dan pasaran Jawa.
Ilustrasi kalender dengan weton dan pasaran Jawa.

RADARBONANG.ID - Ketika mendengar istilah weton, pasaran, atau nama-nama hari seperti Legi dan Kliwon, sebagian dari kita mungkin langsung teringat hal-hal mistis atau ramalan nasib.

Padahal, sistem penanggalan Jawa, termasuk lima hari pasaran, bukanlah sekadar perkara klenik.

Yuk, kita bahas asal-usulnya yang ternyata kaya akan sejarah dan filosofi!

Asal-Usul Kalender Jawa
Sistem kalender Jawa mulai digunakan secara resmi oleh Kesultanan Mataram.

Saat itu, kerajaan ini menggabungkan dua kalender: kalender Masehi untuk keperluan administrasi dan kalender Jawa untuk keperluan adat serta upacara.

Yang membuat kalender Jawa unik adalah adanya lima hari pasaran tambahan di samping tujuh hari dalam kalender Masehi: Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Nama-nama hari pasaran ini berasal dari tokoh leluhur yang diyakini, yaitu Batara Legi, Batara Pahing, Batara Pon, Batara Wage, dan Batara Kliwon.

Jadi, jangan heran jika hari-hari pasaran memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar hari biasa.

Fungsi Pasaran: Dari Pasar hingga Filosofi Hidup

Sejak zaman dulu, lima hari pasaran ini menjadi pedoman bagi para pedagang untuk membuka pasar.

Tidak heran jika kita sering mendengar nama pasar seperti Pasar Kliwon atau Pasar Legi.

Fungsinya tidak hanya untuk perdagangan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang kuat.

Hari-hari pasaran ini juga memiliki filosofi tersendiri:

Siklus ini mengajarkan keseimbangan hidup, seperti kapan harus berdiri tegak, kapan beristirahat, dan kapan melihat ke belakang untuk refleksi diri.

Tradisi Wetonan dan Filosofi Kehidupan

Wetonan adalah peringatan hari lahir seseorang berdasarkan kalender Jawa.

Biasanya, wetonan pertama diperingati 35 hari setelah bayi lahir dengan upacara nyelapani.

Tradisi ini bukan sekadar seremoni, tetapi juga pengingat akan siklus hidup yang terus berputar.

Bukan Klenik, tetapi Warisan Budaya

Jika masih ada yang menganggap hari pasaran Jawa hanya terkait dengan hal-hal mistis, mereka perlu mengetahui bahwa ini adalah bagian dari sejarah dan budaya yang kaya.

Selain membantu menjaga ritme hidup, hari-hari pasaran juga menunjukkan betapa bijaknya nenek moyang kita dalam memaknai waktu.

Kalau sempat, coba cek weton Anda. Siapa tahu ada cerita menarik yang dapat membantu kita lebih memahami diri sendiri. (*)

Anggota piket Polres Magelang Kota mengamankan sejumlah anak-anak yang nongkrong membawa senjata tajam di Kampung Nambangan, Magelang Tengah.
Anggota piket Polres Magelang Kota mengamankan sejumlah anak-anak yang nongkrong membawa senjata tajam di Kampung Nambangan, Magelang Tengah.
 Celurit panjang yang berhasil diamankan aparat Polres Magelang Kota
Celurit panjang yang berhasil diamankan aparat Polres Magelang Kota
SOSIALISASI: Dio Jordy Alvian saat reses di Desa/Kecamatan Ngunut.
SOSIALISASI: Dio Jordy Alvian saat reses di Desa/Kecamatan Ngunut.
CERIA: Sejumlah mahasiswa saat menikmati jajanan yang ada di Kantin FEB Unej.
CERIA: Sejumlah mahasiswa saat menikmati jajanan yang ada di Kantin FEB Unej.
KOMPAK: Kepala KPwBI Jember bersama pihak terkait foto bersama, setelah meninjau langsung kantin FEB Unej yang menjadi Zona KHAS.
KOMPAK: Kepala KPwBI Jember bersama pihak terkait foto bersama, setelah meninjau langsung kantin FEB Unej yang menjadi Zona KHAS.
Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : Amin Fauzie
#penanggalan #kalender #jawa #nama hari #filosofi #warisan budaya #tradisi #Asal-usul #weton #Pasaran #klenik