Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Pawai Budaya Kayon: Merayakan Tradisi dan Rasa Syukur di Desa Bejagung Lor

M. Afiqul Adib • Jumat, 15 November 2024 | 00:22 WIB
Pawai budaya Kayon di Desa Bejagung Lor.
Pawai budaya Kayon di Desa Bejagung Lor.

RADARBONANG.ID - Pawai Budaya Kayon merupakan salah satu tradisi yang tak sekadar merayakan budaya, tetapi juga mengikat masyarakat Desa Bejagung Lor di Tuban dalam sebuah perjalanan spiritual yang penuh makna.

"Kayon" yang biasanya kita kenal dalam pagelaran wayang kulit sebagai simbol peralihan lakon, memiliki arti lebih mendalam bagi warga desa ini.

Sebagai sebuah tradisi yang hidup, Kayon menjadi perayaan syukur atas berbagai pencapaian, serta upaya menghidupkan kembali kearifan lokal yang semakin tergerus zaman.

Setiap tahun, tradisi ini diselenggarakan sebagai ungkapan syukur setelah pembangunan atau renovasi fasilitas penting, seperti makam tokoh-tokoh bersejarah.

Salah satu yang paling monumental adalah renovasi atap cungkup makam Sunan Bejagung Lor pada tahun 2019, yang memicu digelarnya Pawai Budaya Kayon.

Acara ini diawali dengan pawai budaya yang meriah, di mana gunungan yang dihias kreatif dibawa berkeliling desa, melewati jalan-jalan hingga akhirnya mencapai area makam.

Keikutsertaan warga desa—mulai dari anak-anak hingga orang tua—menjadi inti dari semangat kebersamaan yang terjalin.

Pawai bukan hanya sekadar acara hiburan, namun sebuah pengingat akan nilai sejarah yang hidup di setiap sudut desa.

Sesampainya di makam, acara berlanjut dengan pembacaan doa sebagai tanda syukur atas keselamatan dan untuk memohon perlindungan bagi warga desa.

Puncak acara, Grebeg Gunungan, menyatukan warga dalam sebuah tradisi berbagi berkah dari hasil bumi yang mengelilingi gunungan.

Simbol kayon yang mengerucut ke atas menjadi pengingat bahwa segala usaha dan doa manusia pada akhirnya harus diserahkan kepada Sang Pencipta.

Tradisi Kayon ini pertama kali digelar pasca-kemerdekaan pada tahun 1964, setelah renovasi cungkup makam Sunan Bejagung.

Sejak saat itu, Kayon menjadi upacara sakral yang diwariskan secara turun-temurun, bukan hanya sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga sebagai sarana untuk mempererat silaturahmi antarwarga.

Bagi masyarakat Bejagung Lor, Kayon lebih dari sekadar ritual. Ini adalah cara mereka merawat sejarah dan mengenalkan nilai-nilai leluhur kepada generasi muda.

Setiap pawai, gunungan, dan doa yang dipanjatkan adalah bentuk penghormatan yang menguatkan ikatan di antara mereka.

Di tengah modernisasi yang semakin pesat, tradisi Kayon tetap berlangsung, mengingatkan warga bahwa meski dunia terus berubah, kearifan lokal yang mereka jaga tetap memiliki tempat yang tak tergantikan.

Sebuah tradisi yang tak hanya mempererat hubungan antarwarga, tetapi juga menyuburkan rasa syukur dan harapan untuk masa depan. (*)

MAMPU BERSAING: Tim juri, Plt Bupati Blora Tri Yuli Setyowati, Kepala Bappeda Blora A. Mahbub Djunaidi, perwakilan OPD, dan petani muda foto bersama menunjukkan produk olahan pertanian.
MAMPU BERSAING: Tim juri, Plt Bupati Blora Tri Yuli Setyowati, Kepala Bappeda Blora A. Mahbub Djunaidi, perwakilan OPD, dan petani muda foto bersama menunjukkan produk olahan pertanian.
Editor : Amin Fauzie
#kearifan lokal #kayon #tradisi #Desa Bejagung Lor #pawai budaya #wayang kulit #tuban