Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Kentrung Bate: Seni Tradisional dengan Dalang Perempuan yang Sarat Nuansa Islami

M. Afiqul Adib • Minggu, 10 November 2024 | 17:35 WIB
Ilustrasi orang memainkan rebana dan kentrung, salah satu alat musik yang digunakan dalam seni pertunjukan tradisional Kentrung Bate dari Bangilan, Tuban.
Ilustrasi orang memainkan rebana dan kentrung, salah satu alat musik yang digunakan dalam seni pertunjukan tradisional Kentrung Bate dari Bangilan, Tuban.

RADARBONANG.ID - Di antara seni-seni tradisional yang tergerus zaman, Kentrung Bate dari Tuban masih terus berusaha bertahan meski sudah di ambang punah.

Kesenian khas Kecamatan Bangilan ini merupakan seni bercerita yang diiringi tabuhan rebana dan kentrung—sebuah alat musik perkusi yang melengkapi cerita penuh makna dengan nuansa islami.

Tidak hanya di Tuban, tradisi ini sebenarnya juga populer di sepanjang Pantura, seperti Semarang, Pati, dan Jepara.

Meski begitu, Kentrung Bate dari Tuban memiliki identitas tersendiri dan kini diakui secara resmi sebagai bagian dari seni pertunjukan Nusantara.

Sejak 2016, Kentrung Bate telah tercatat sebagai seni pertunjukan dengan nomor registrasi khusus, menjadikan Tuban sebagai penjaga sah dari warisan ini.

Dengan status resmi ini, Tuban memiliki bukti kuat bahwa Kentrung Bate adalah kekayaan budaya yang autentik dari wilayahnya.

Pada era 70-an, Kentrung Bate begitu populer dan menjadi hiburan favorit masyarakat.

Setiap malam pasaran—mulai dari Legi, Pahing, Pon, Wage, hingga Kliwon—perempatan jalan dan pasar pasti ramai dengan pementasan kentrung.

Suasana malam pun berubah semarak dengan alunan musik dan cerita yang dibawakan.

Kentrung Bate masuk ke Desa Bate berkat peran seorang tokoh agama bernama Kyai Basiman.

Dia adalah orang pertama yang memperkenalkan seni kentrung di desa ini, menjadikannya bagian dari budaya setempat yang terus dikenang hingga kini.

Mulai dari Basiman dan dua saudaranya, Dasilah dan Sukilah, mereka membentuk kelompok kentrung pertama di desa setempat.

Namun, sepeninggal Basiman, kelompok ini sempat mati suri. Sampai akhirnya, Somo Wage, seorang pemain kentrung dari Bojonegoro, menikah dengan saudara perempuan Sukilah, yang bernama Tasmi.

Pernikahan ini, secara tidak langsung, menyambung kembali napas Kentrung Bate.

Somo Wage meneruskan seni ini hingga wafat pada tahun 1961, yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Surati, hingga akhirnya diteruskan lagi oleh Wiji, generasi terakhir yang bertahan sampai sekarang.

Kentrung Bate bukan sekadar hiburan. Sebagai seni dakwah, kentrung mengangkat kisah-kisah islami: hikayat para nabi, cerita Wali Songo, dan kisah perjuangan tokoh-tokoh Islam.

Kentrung Bate dari Tuban memiliki ciri khas yang membedakannya dari seni tradisional lainnya: dalangnya harus seorang perempuan.

Dengan formasi dua sampai empat orang, satu dalang bertugas membawakan cerita sekaligus bermain musik, ditemani oleh panjak, yang fokus menabuh rebana dan kentheng.

Dari awal hingga akhir, nuansa islami begitu kuat, sehingga kentrung Bate sering diundang di acara pernikahan, peringatan hari kemerdekaan, hingga hajatan adat desa.

Sayangnya, kini kentrung Bate mulai terpinggirkan. Seni-seni modern bikin minat orang ke kentrung makin pudar.

Belum lagi, rata-rata pemainnya sudah sepuh, jadi regenerasinya makin seret.
Upaya menjaga keberlanjutan Kentrung Bate kini bergantung pada dokumentasi yang teliti.

Rekaman pertunjukan, teknik tabuhan, hingga cerita yang dibawakan perlu diarsipkan dengan baik agar warisan seni ini tetap hidup dan tidak hilang ditelan zaman.

Dokumentasi yang lengkap akan menjadi fondasi penting bagi generasi mendatang untuk mengenal dan menghidupkan kembali Kentrung Bate sebagai bagian dari kekayaan budaya kita.

Kentrung Bate memang di ujung tanduk, namun jika dokumentasinya digarap dengan serius, seni ini berpotensi membangkitkan kesadaran generasi muda Tuban akan nilai budaya lokal yang berharga.

Dokumentasi yang baik dapat membuka mata mereka tentang betapa unik dan menariknya warisan budaya ini.

Siapa tahu, kelak ketika Anda berkunjung ke Tuban, masih ada kesempatan untuk menyaksikan langsung seni kentrung yang langka dan sarat makna ini. (*)

(YUAN EDO/RADAR BOJONEGORO)
(YUAN EDO/RADAR BOJONEGORO)
Editor : Amin Fauzie
#seni pertunjukan #Kesenian khas #tradisi #Cerita #rebana #seni tradisional #kentrung bate #Nuansa Islami #bangilan #tuban #kentrung