RADARBONANG.ID - Kesenian Sandur mungkin jarang terdengar di telinga anak muda zaman sekarang, apalagi yang sudah akrab dengan layar ponsel.
Padahal, di balik kesederhanaannya, Sandur ini menyimpan banyak hal unik dan misterius yang justru bikin kita penasaran.
Sandur, yang telah diakui sebagai warisan budaya takbenda Kabupaten Tuban, bukan sekadar sebuah hiburan.
Lebih dari itu, Sandur merupakan bagian penting dari ritual yang telah terjalin erat dengan kehidupan masyarakat agraris sejak zaman dahulu.
Jadi, kenapa sih anak muda seharusnya mengenal dan melestarikan seni ini?
1. Panggungnya Bukan di Gedung, Tapi di Tanah Lapang
Berbeda dengan teater modern yang menggunakan panggung canggih dan gedung megah, Sandur justru mengandalkan tanah lapang sebagai arena pertunjukannya.
Penonton mengelilingi area berbentuk bujur sangkar yang dipagari dengan janur kuning (disebut Blabar Janur Kuning), dengan jajanan tradisional yang digantung di sekelilingnya.
Tidak ada tiket atau kursi empuk yang biasa ditemukan di teater modern.
Suasana lapangan yang terbuka, dipadukan dengan dekorasi khas pedesaan, menciptakan kedekatan antara penonton dan pertunjukan.
Hal ini memberikan pengalaman yang lebih menyatu dengan alam, sebuah bentuk seni yang autentik dan apa adanya—sesuatu yang semakin sulit ditemukan di era digital ini.
2. Kisahnya Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari
Sandur tidak hanya mengisahkan drama, melainkan cerita yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: mulai dari mengolah tanah, menanam, hingga panen.
Setiap adegan dalam Sandur menggambarkan tahapan pekerjaan di sawah yang sudah sangat familiar bagi masyarakat desa.
Hal ini membuat Sandur terasa sangat relevan, khususnya bagi warga Tuban yang masih memiliki hubungan kuat dengan dunia pertanian.
Bagi anak muda, Sandur menjadi pengingat bahwa tidak semua yang indah datang dari luar—budaya lokal pun memiliki cerita dan nilai yang erat kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari.
3. Ada Aksi Kalongking yang Mistis
Bagian ini adalah salah satu yang paling memikat sekaligus menegangkan dari Sandur.
Di tengah pertunjukan, dua batang bambu asli yang masing-masing setinggi 10-12 meter dipasang dan dihubungkan dengan tali besar.
Para pemain kemudian melakukan aksi kalongking, sebuah akrobat yang mengandung unsur mistis.
Lebih dari sekadar atraksi, aksi ini merupakan bagian dari ritual Sandur yang memberikan nuansa magis dan sakral.
Bayangkan betapa menakjubkannya jika kita bisa menyaksikan langsung aksi tersebut!
4. Mengajarkan Harmoni dengan Alam
Sandur bukan hanya sekadar pertunjukan, tetapi juga mengandung pesan mendalam tentang kehidupan dan hubungan kita dengan alam.
Lewat parikan dan cangkriman (teka-teki), Sandur mengingatkan kita untuk hidup selaras dengan alam serta menghormati semua makhluk hidup.
Di tengah isu lingkungan yang semakin mendesak saat ini, pesan-pesan tersebut sangat relevan dan bisa menjadi inspirasi bagi anak muda untuk lebih peka terhadap lingkungan dan berupaya menjaga kelestariannya.
5. Budaya Lokal sebagai Identitas Diri
Di era globalisasi ini, banyak anak muda yang lebih bangga dengan budaya populer dari luar.
Namun, budaya lokal seperti Sandur adalah bagian penting dari identitas kita yang harus dilestarikan.
Sandur memiliki nilai sejarah yang kaya, mengajarkan pentingnya rasa syukur, menjaga keseimbangan hidup, dan memahami tradisi yang telah ada sejak nenek moyang kita.
Menonton dan melestarikan Sandur bukan hanya soal hiburan, tapi juga upaya untuk merawat dan memperkuat identitas kita sebagai bagian dari masyarakat Tuban.
Bagi anak muda, melestarikan Sandur bisa dimulai dari hal-hal sederhana—seperti mempelajari kisah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,
hadir di pertunjukan Sandur, atau bahkan sekadar mengangkatnya di media sosial.
Jadi, mulai dari sekarang, ayo kita menjadi generasi yang bukan hanya tahu, tetapi juga menjaga dan menghidupkan kembali Sandur agar tetap eksis dan dikenal oleh banyak orang. (*)