RADARBONANG.ID - Sandur merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional asal Jawa Timur yang berkembang di wilayah Kabupaten Tuban.
Seni ini memiliki akar yang kuat dalam budaya lokal sebagai bentuk ungkapan syukur, biasanya digelar untuk merayakan musim panen atau peristiwa keagamaan dan sosial.
Meski di tengah arus modernisasi, Sandur tetap bertahan dan bahkan telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda oleh Kabupaten Tuban.
Sandur bukan hanya soal hiburan, tapi juga upacara ritual dan ungkapan syukur khas warga agraris yang menempel erat dengan alam.
Dalam pertunjukannya, warisan budaya lokal ini memadukan elemen teater, tari, musik, dan komedi, dengan cerita-cerita yang disampaikan dalam dialek lokal.
Sandur biasanya dimulai dengan alunan musik khas seperti 'gending campursari' yang menjadi pengantar bagi para penari dan pemain.
Seperti ludruk di Surabaya, Sandur tampil sederhana dengan ciri khasnya sendiri, hanya saja ceritanya berkisar pada kehidupan pertanian lokal.
Bayangkan, setelah seharian lelah bekerja di sawah, masyarakat agraris Tuban di masa lalu punya hiburan khas sendiri yang, lama-kelamaan, berkembang menjadi kesenian sakral.
Selain cerita (drama), ada pula tari, karawitan, dan aksi akrobat mistis bernama kalongking, plus unsur-unsur supranatural yang bikin pertunjukan ini terasa magis.
Uniknya, kata Sandur konon berasal dari kata isan (selesai panen) dan dhur (sampai habis).
Jadi bisa dibilang, Sandur adalah cara masyarakat dulu untuk menutup musim panen.
Dari namanya saja sudah kerasa kalau kesenian ini tumbuh dari keseharian masyarakat Tuban yang akrab dengan tanah dan hasil bumi.
Cerita Sandur sendiri biasanya berputar mulai dari mengolah tanah, menanam, sampai akhirnya memanen.
Aktor utamanya adalah empat karakter legendaris, yakni Balong, Pethak, Cawik, dan Tangsil—semuanya diperankan oleh anak-anak yang belum disunat, dianggap masih suci dan tanpa dosa.
Mereka akan berputar di tengah lapangan dengan memakai bahasa Jawa Ngoko, diselingi sedikit bahasa Jawa Krama.
Pertunjukan Sandur dilaksanakan di tanah lapang dan dibatasi oleh pagar tali berbentuk bujur sangkar yang disebut Blabar Janur Kuning.
Tali ini dihias janur kuning melengkung, lengkap dengan jajanan pasar, ketupat, dan lontong ketan atau lepet.
Dan untuk aksi kalongking, dua bambu ori setinggi 10-12 meter ditancapkan di tengah lapangan, dihubungkan tali besar sebagai arena aksi.
Yang bikin Sandur tambah sakral adalah pesan-pesan dalam bentuk parikan dan cangkriman (teka-teki) yang mengingatkan kita tentang pentingnya hidup harmonis dengan alam.
Di tengah gempuran budaya modern, Sandur masih hidup di Tuban.
Buat warga Tuban, Sandur bukan hanya tontonan, tapi juga pengingat tentang bagaimana leluhur kita menjaga keseimbangannya dengan alam.
Seiring perkembangan zaman, Sandur juga beradaptasi dengan berbagai pengaruh modern, terutama dalam aspek musik dan tata panggung.
Jika sebelumnya musik Sandur menggunakan gamelan tradisional, kini beberapa pertunjukan memasukkan instrumen kontemporer agar lebih menarik bagi generasi muda.
Meskipun terjadi perubahan, nilai inti Sandur seperti kebersamaan, ekspresi budaya, dan pesan sosial tetap terjaga. (*)
Editor : Amin Fauzie