RADARBONANG.ID - Ketika kita berbicara tentang batik, biasanya kita langsung teringat Pekalongan, Solo, atau Yogyakarta.
Namun, jangan lupa bahwa Tuban juga memiliki batik khasnya sendiri, yaitu Batik Gedog.
Kain Batik Gedog memiliki karakteristik unik: tebal dan sedikit kasar, karena terbuat dari benang kapas yang ditenun secara manual.
Motifnya sebagian besar terinspirasi dari alam, seperti daun dan burung, yang memiliki makna filosofis mendalam.
Proses pembuatannya sangat rumit, mulai dari menanam kapas hingga menenun kain.
Semua dilakukan dengan penuh kesabaran dan keterampilan, memakan waktu berbulan-bulan karena masih mengandalkan metode manual.
Dari segi proses pembuatan, memang Batik Gedog melibatkan teknik yang kompleks dan memakan waktu lama, mulai dari memintal kapas hingga pewarnaan dengan bahan alami.
Ini menciptakan kain batik yang tidak hanya indah tetapi juga kaya akan makna budaya.
Dalam budaya Hindu, misalnya, burung sering kali melambangkan kehidupan setelah mati, sementara tanaman mewakili kehidupan di bumi, menciptakan simbol keseimbangan yang menarik antara dua dunia tersebut.
Nama dan Asal-Usul Batik Gedog Tuban
Nama 'Gedog' pada Batik Gedog berasal dari suara 'dog dog' yang muncul saat alat tenun tradisional digunakan.
Awalnya, Batik Gedog dibuat khusus untuk upacara adat dan ritual penting di Tuban.
Namun, seiring berjalannya waktu, kain batik ini berkembang menjadi busana sehari-hari yang cocok dikenakan di berbagai acara, baik formal maupun santai.
Kini, banyak industri batik tulis tenun Gedog tumbuh dan berkembang, menghadirkan ragam motif dan desain yang semakin variatif.
Batik Gedog memiliki akar budaya yang kuat dalam sejarah Tuban. Menurut cerita, kain ini diperkenalkan pertama kali oleh Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok pada masa pemerintahan Majapahit.
Pengaruh budaya Tiongkok dalam Batik Gedog terlihat dari motif burung Hong, simbol yang diadaptasi sebagai ciri khas batik ini.
Seiring waktu, batik ini mulai dikenal dan diadopsi oleh masyarakat Tuban.
Kisah Batik Gedog juga tak lepas dari pengaruh Ki Jontro, seorang pengikut Ronggolawe.
Saat bersembunyi dari pemerintahan Majapahit, Ki Jontro menciptakan pakaian untuk pasukannya dari kain tenun yang saat itu hanya memiliki motif garis-garis sederhana.
Pengaruh batik Lokcan yang diperkenalkan Laksamana Cheng Ho kemudian menginspirasi Ki Jontro untuk memperkaya motif kainnya dengan corak-corak yang lebih variatif, memperlihatkan akulturasi budaya dan seni pada kain Batik Gedog.
Makna Budaya Batik Gedog
Di Tuban, Kecamatan Kerek dikenal sebagai salah satu pusat pembuatan Batik Gedog.
Produksi batik ini dilakukan oleh masyarakat setempat saat tidak ada aktivitas bertani, terutama ketika masa tanam belum dimulai.
Motif khas pada Batik Gedog, seperti titik-titik, mengandung filosofi Jawa-Hindu yang disebut 'kiblat papat lima pancer,' melambangkan pandangan mengenai keserakahan manusia terhadap bumi.
Motif lain yang berupa tanaman menggambarkan kebutuhan pangan, sedangkan motif burung mencerminkan kehidupan di alam atas.
Pada masa Hindu, motif dalam Batik Gedog juga berfungsi sebagai penanda strata sosial.
Namun, ketika pengaruh Islam berkembang di Jawa, fungsi motif berubah.
Perbedaan motif mulai digunakan untuk membedakan usia pemakainya: motif geometris dan warna gelap untuk orang tua, sementara motif lebih bebas dan cerah untuk para pemuda.
Batik Gedog khas Tuban ini memiliki kekayaan dalam ragam motif, warna, dan fungsi.
Tercatat, dari sekitar 100 motif yang ada, sebanyak 40 motif sudah cukup dikenal, seperti motif ganggeng, kembang randu, kembang waluh, hingga motif khas seperti panji serong, kijing miring, dan lain sebagainya.
Setiap motif memiliki makna yang mendalam; misalnya, motif Phoenix menunjukkan pengaruh budaya Tiongkok yang muncul karena Tuban pernah menjadi pintu masuk pendatang dari Negeri Tirai Bambu pada masa lalu.
Motif Panji Serong mencerminkan pengaruh Kerajaan Majapahit yang menguasai Tuban pada abad ke-12 hingga ke-16.
Selain makna filosofi dan sejarah, beberapa motif dalam Batik Gedog juga memiliki simbol keselamatan, seperti motif lok can, kolo rambat, dan kembang waluh.
Sementara itu, motif owal-awil dan klopo sekanthet melambangkan kebahagiaan.
Ada juga motif yang mencerminkan makna kehidupan, seperti lar wongo, kembang jeruk, dan krompol, yang memperkaya makna batik ini dalam kehidupan sehari-hari.
Fungsi Batik Gedog Tuban
Batik Gedog pada awalnya digunakan oleh kaum wanita dengan cara dililitkan mengelilingi pinggang.
Kainnya berbentuk persegi panjang dengan lebar sekitar 100–110 cm dan panjang sekitar 250 cm.
Selain sebagai pakaian, Batik Gedog juga digunakan sebagai alat untuk menggendong barang di bahu, terutama saat ke pasar atau ladang.
Dalam berbagai acara tradisional, Batik Gedog memiliki peran yang istimewa.
Pada upacara kelahiran, misalnya, bayi yang baru lahir dibungkus dengan Batik Gedog polos berwarna putih, melambangkan kesucian.
Dalam pernikahan, kain ini digunakan oleh pengantin dan juga sebagai mahar.
Bahkan, bagi kalangan berada, calon pengantin laki-laki biasanya menyertakan hingga 100 lembar kain Batik Tuban sebagai hantaran kepada mempelai perempuan.
Selain itu, selendang dari Batik Gedog juga memiliki beragam fungsi dan makna.
Selendang 'selimun' misalnya, diyakini berkhasiat untuk menyembuhkan demam dengan menyelimuti orang yang sakit.
Lalu, ada selendang 'lokcan' yang berakar dari budaya Tiongkok dan digunakan untuk mengatasi sengatan kalajengking, serta selendang 'kembang waluh' yang dipakai dalam ritual membuang sial.
Di luar fungsi tradisional tersebut, Batik Gedog tetap memiliki kharisma tersendiri, mencerminkan kreativitas yang diwariskan dari generasi ke generasi, dan menggunakan bahan alami dalam proses pembuatannya.
Batik Gedog dikenal bernilai tinggi, dengan harga kain tulis tenun ini yang dapat mencapai Rp800.000.
Namun, batik motif Tuban dengan bahan dasar berbeda tersedia dengan harga lebih terjangkau sekitar Rp40.000, memungkinkan lebih banyak orang menikmati keindahannya.
Pungkasnya, sebagai warga Tuban, sudah seharusnya kita patut bangga memiliki Batik Tulis Tenun Gedog.
Warisan budaya tak benda ini telah membawa nama Kabupaten Tuban dikenal di tingkat nasional.
Mari kita dukung produk lokal agar semakin dikenal di kancah internasional! (*)