Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Kisah Nyai Ageng Maloka Bertemu Sunan Bonang, Ditugasi Sunan Ampel Berdakwah di Lasem

Amin Fauzie • Sabtu, 7 September 2024 | 13:10 WIB
Ilustrasi cerita rakyat kisah Nyai Ageng Maloka bertemu Sunan Bonang.
Ilustrasi cerita rakyat kisah Nyai Ageng Maloka bertemu Sunan Bonang.

RADARBONANG.ID - Nyai Ageng Maloka, yang juga dikenal dengan nama Siti Syari'ah, merupakan sosok penting dalam sejarah Kadipaten Lasem.

Ia adalah saudara kandung Sunan Bonang dan putri dari Sunan Ampel, dua tokoh besar dalam penyebaran agama Islam di Jawa.

Ada cerita menarik dari kisah Nyai Ageng Maloka bertemu Sunan Bonang.

Meski belum pasti kebenarannya, tapi kisah pertemuannya dengan Sunan Bonang itu kini masih menjadi salah satu cerita legenda yang diwariskan turun-temurun di tengah masyarakat.

Untuk mengenang jasa dan peran penting Nyai Ageng Maloka, Radar Bonang merangkum salah satu cerita rakyat yang selama ini dikenal, sebagai penghormatan terhadap tokoh penyebar Islam yang berpengaruh di Lasem ini.

Kisah Nyai Ageng Maloka

Dahulu kala, ada seorang penyebar agama Islam berasal dari Champa bernama Raden Rahmat.

Mengenai lokasi Champa sendiri ada dua pendapat. Menurut Encyclopedia Van  Nederlandesh Indie Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja, sedangkan ada pendapat lain, Raffles mengatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa.

Raden Rahmat berniat merantau ke Pulau Jawa dengan tujuan menyebarkan agama Islam.

Sebelum tiba di Jawa, ia singgah di Malaka, di mana ia memperkenalkan Islam dan menjadi ulama terkenal di sana.

Di Malaka, Raden Rahmat menjadi menantu Sultan Johor dan dikaruniai seorang putri bernama Nini Maloka.

Setelah kelahiran putrinya, Raden Rahmat melanjutkan perjalanan dakwahnya ke tanah Jawa melalui pelabuhan Tuban.

Setelah memiliki seorang putri, Raden Rahmat berkeinginan melanjutkan perjalanan dakwahnya menuju tanah Jawa.

Berangkatlah ia menuju pulau Jawa untuk kemudian singgah di pelabuhan Tuban.

Di Tuban, ia bertemu dengan seorang laki-laki yang menjadi sahabat karibnya.

Singkat cerita akhirnya ia pun dinikahkan dengan putri sahabatnya itu yang bernama Putri Manila.

Pernikahan Raden Rahmat yang kedua dengan Putri Manila ini membuahkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Makhdum Ibrahim yang kemudian dikenal dengan Sunan Bonang.

Karena keberhasilannya menyiarkan agama, oleh pengikutnya Raden Rahmat diangkat sebagai Sunan di Ampel Surabaya yang akhirnya terkenal dengan sebutan Sunan Ampel.

Kabar kemasyhuran Sunan Ampel ini pun terdengar sampai  ke Malaka.

Sementara itu, Nini Maloka, yang sudah beranjak dewasa di Malaka, berkeinginan untuk menemui ayahnya di Surabaya.

Dengan izin Sultan Johor, ia pun memulai perjalanannya naik kapal menuju pelabuhan Tuban, sebelum melanjutkan perjalanan ke Surabaya.

Saat tiba di Tuban, Nini Maloka bertemu dengan seorang pemuda tampan.

Mereka berdua saling berbagi cerita, hingga akhirnya diketahui bahwa ternyata pemuda tampan tersebut adalah saudara seayahnya, Makhdum Ibrahim.

Mereka adalah kakak-adik dari ibu yang berbeda.

Konon, sebelum menyadari hubungan darah mereka, keduanya bahkan sempat saling jatuh cinta.

Setelah mengetahui kebenaran tersebut, Nini Maloka melanjutkan perjalanannya ke Surabaya dengan ditemani adiknya untuk bertemu dengan ayah mereka.

Setibanya di Surabaya, Makhdum Ibrahim segera menceritakan pertemuannya dengan Nini Maloka kepada ayah mereka, Sunan Ampel.

Pada saat itu, Kerajaan Majapahit tengah mengalami kemunduran.

Sementara itu, Kadipaten Lasem, salah satu wilayah bawahan Majapahit, diperintah oleh Adipati Wirabraja yang berniat memeluk agama Islam.

Untuk mewujudkan niatnya, Adipati Wirabraja meminta kepada Sunan Ampel agar mengirimkan seorang guru yang mampu menyebarkan ajaran Islam di Lasem.

Sunan Ampel kemudian menugaskan putrinya, Nini Maloka, untuk melaksanakan misi dakwah tersebut.

Bersama adiknya, Makhdum Ibrahim, Nini Maloka berangkat ke Lasem.

Setelah beberapa waktu menetap di Lasem, Nini Maloka dinikahkan dengan putra Adipati Wirabraja, Wiranagara.

Ketika usia Adipati Wirabraja mulai senja, ia menyerahkan kekuasaan Kadipaten kepada Wiranagara, dengan Nini Maloka sebagai permaisurinya.

Setelah lima tahun memimpin, Adipati Wiranagara wafat pada tahun 1479.

Kekuasaan pemerintahan kemudian diteruskan oleh Nini Maloka, yang juga dikenal sebagai Nyai Ageng Maloka.

Dalam menjalankan tugasnya, ia dibantu oleh adiknya, Makhdum Ibrahim, yang lebih dikenal sebagai Sunan Bonang.

Selama masa kepemimpinannya, Nyai Ageng Maloka memutuskan untuk memindahkan kembali istana kadipaten serta pusat pemerintahan ke Lasem, setelah sebelumnya sempat dipindahkan oleh Adipati Wirabraja dari Soditan ke Binangun.

Nyai Ageng Maloka wafat di usia 39 tahun. Ia dimakamkan di Dukuh Caruban, Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Setiap hari pemakaman ini tak pernah sepi dari peziarah.

Nyai Ageng Maloka dimakamkan di kawasan pinggir Pantai Caruban, Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem, Rembang. Di pelataran makam ini juga terdapat beberapa makam, salah satunya makam anak Raden Fatah yaitu Pangeran Surowiyoto.

Artikel ini sudah tayang di tvonenews.com pada hari Kamis, 7 April 2022 - 16:16 WIB
Judul Artikel : Kisah Nyai Ageng Maloka, Mubalighah Penyebar Islam di Pulau Jawa
Link Artikel : https://www.tvonenews.com/lifestyle/trend/35253-kisah-nyai-ageng-maloka-mubalighah-penyebar-islam-di-pulau-jawa
Oleh : Reporter : Abdul Rohim Editor : Budi Zulkifli
Nyai Ageng Maloka dimakamkan di kawasan pinggir Pantai Caruban, Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem, Rembang. Di pelataran makam ini juga terdapat beberapa makam, salah satunya makam anak Raden Fatah yaitu Pangeran Surowiyoto.

Artikel ini sudah tayang di tvonenews.com pada hari Kamis, 7 April 2022 - 16:16 WIB
Judul Artikel : Kisah Nyai Ageng Maloka, Mubalighah Penyebar Islam di Pulau Jawa
Link Artikel : https://www.tvonenews.com/lifestyle/trend/35253-kisah-nyai-ageng-maloka-mubalighah-penyebar-islam-di-pulau-jawa
Oleh : Reporter : Abdul Rohim Editor : Budi Zulkifli

Demikianlah kisah Nyai Ageng Maloka, mubalighah pertama yang menyebarkan agama Islam di wilayah Lasem. (*)

Bayu Cahyoadi mencoba salah satu miniatur mobilnya di lintasan mini 4 WD-nya.
Bayu Cahyoadi mencoba salah satu miniatur mobilnya di lintasan mini 4 WD-nya.
Editor : Amin Fauzie
#kisah #putri dari Sunan Ampel #Siti Syariah #Nyai Ageng Maloka #cerita rakyat #Sunan Bonang