Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Lebaran Ketupat 2024: Sejarah, Makna dan Ragam Perayaannya di Berbagai Daerah di Indonesia

Amin Fauzie • Selasa, 16 April 2024 | 09:39 WIB
Ilustrasi ketupat
Ilustrasi ketupat

TUBAN-Umat Muslim di Indonesia telah merayakan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran 2024 pada 1 Syawal 1445 Hijriah. Setelah merayakan Lebaran, sebagian masyarakat juga merayakan Lebaran Ketupat.

Tradisi Lebaran Ketupat atau disebut juga kupatan ini biasanya dilakukan pada hari ke-8 di bulan Syawal, yang menandakan sudah dilakukannya puasa sunnah enam hari pertama di bulan tersebut.

Jamak diketahui, Tradisi Lebaran Ketupat digelar seminggu setelah Idul Fitri. Dan pada tahun ini, diperkirakan Lebaran Ketupat jatuh pada Rabu, 17 April 2024. Hal itu dihitung dari hari raya Idul Fitri yang jatuh pada Rabu, 10 April 2024.

Masyarakat Jawa merayakan Lebaran Ketupat dengan berkumpul bersama menggelar acara hajatan dan makan bersama-sama.

Acara hajatan juga dilaksanakan di musala dan masjid seraya memanjatkan doa.

Selain ketupat, biasanya disertakan juga hidangan pendampingnya seperti lodeh, opor, atau rendang.

Ya, masyarakat Jawa selalu merayakan Lebaran Ketupat setiap tahun. Hal ini tidak terlepas dari sejarah Lebaran ketupat dan maknanya yang begitu berarti dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Sejarah Lebaran Ketupat

Menurut laman Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), tradisi Lebaran Ketupat telah diperkenalkan sejak zaman Kesultanan Demak pada abad ke-16 M. Sejak itu, tradisi ini terus diwariskan dan dijalankan hingga kini.

Lebaran ketupat sangat erat kaitannya dengan salah satu tokoh Walisongo, yaitu Sunan Kalijaga. Yang pada zaman itu, Lebaran Ketupat menjadi salah satu cara para auliya dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara, khususnya di Pulau Jawa.

Ada dua istilah yang diperkenalkan Sunan Kalijaga, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. "Bakda" bermakna "setelah", sehingga dua tradisi ini dilakukan setelah perayaan Idul Fitri.

Pada zaman Walisongo, Lebaran Ketupat dirayakan bersamaan dengan tradisi selamatan. Sampai saat ini, tradisi tersebut masih dijunjung tinggi oleh masyarakat sebagai bentuk syukur kepada Tuhan dan wadah silaturahmi setelah perayaan Idul Fitri.

Makna Ketupat

Ketupat atau kupat dapat diartikan sebagai "laku papat" yang melambangkan empat aspek dari ketupat itu sendiri yang memiliki bentuk segi empat. Dalam bahasa Jawa, “laku” itu sendiri berarti tindakan, dan “papat” berarti empat.

Jadi laku papat berarti juga empat tindakan, yakni Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan.

Penjelasan dari empat tindakan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Lebaran, berasal dari kata "lebar", menandakan selesainya suatu tindakan, yang dalam konteks ini mengacu pada telah selesainya menjalankan ibadah puasa.
  2. Luberan, atau meluber, menggambarkan aksi bersedekah dengan tulus seperti aliran air yang meluap dari wadahnya. Tradisi berbagi atau bersedekah saat hari raya Idul Fitri telah menjadi kebiasaan umat Islam di Indonesia.
  3. Leburan mencerminkan makna "melebur" dalam bahasa Indonesia. Hal ini mengindikasikan proses melebur atau menghapus dosa melalui maaf-memaafkan dan menjalin silaturahmi di hari raya Idul Fitri.
  4. Laburan berasal dari kata “labur”, dalam bahasa Jawa yang berarti kapur putih. Hal ini melambangkan kesucian dan pemurnian hati seseorang setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadhan.

Perayaan tradisi Lebaran Ketupat di berbagai daerah di Indonesia dengan cara yang khas dan beragam.

Di Kudus, Jawa Tengah, tradisi Lebaran Ketupat diwarnai dengan prosesi Kirab Gunungan Seribu Ketupat. Ribuan ketupat dan ratusan lepet dibentuk menjadi gunungan dan diarak oleh masyarakat dari desa menuju Masjid Sunan Muria. Tradisi ini melambangkan ungkapan rasa syukur atas kelancaran menjalani ibadah puasa Ramadhan.

Di Magelang, Festival Balon Syawalan menjadi bagian dari perayaan Lebaran Ketupat sejak tahun 1980-an. Acara ini melibatkan masyarakat untuk menerbangkan sekitar 150 balon udara tradisional. Festival ini berlangsung di Masjid Agung Kauman dan lapangan dusun setempat.

Kota Batu, Jawa Timur, juga merayakan Lebaran Ketupat dengan cara yang istimewa. Warga Kota Batu menyiapkan ketupat dengan ukuran besar, mencapai lebar 50 centimeter, panjang 60 centimeter, dan tebal 30 centimeter.

Di Manado, Masyarakatnya juga turut merayakan Lebaran Ketupat dengan tradisi saling memaafkan.

Di Lombok, NTB, masyarakat merayakan Lebaran Ketupat dengan nama Lebaran Topat yang sudah menjadi bagian dari tradisi sejak lama. Acara ini dilakukan dengan mengadakan 'nyangkar' yang melibatkan banyak orang. Masyarakat lokal melakukan arak-arakan dengan cidomo hias berisi ketupat menuju pusat acara, yaitu makam Loang Baloq. Cidomo merupakan angkutan tradisional yang mirip dengan andong atau delman. (*)

Editor : Amin Fauzie
#tradisi #kupatan #makna #Lebaran Ketupat 2024 #masyarakat jawa