RADARTUBAN-Tongklek, grup musik tradisional ini identik dengan membangunkan warga untuk makan sahur pada puasa Ramadhan.
Aktivitas tersebut dilakukan sekelompok pemuda yang keliling kawasan pemukiman atau perkampungan untuk membangunkan warga untuk bersiap menyantap makan sahur.
Sambil menabuh berbagai peralatan, mereka melantunkan puji-pujian. Yang paling populer adalah salawatan.
Salah satu peranti yang tidak pernah ditinggalkan adalah kentongan bambu.
Kentongan seolah menjadi alat musik utama yang menandakan mereka adalah perkumpulan atau grup tongklek.
Nama tongklek dikaitkan dengan bunyi alat musiknya, yakni tong dan klek.
Alat musik tambahan pun beragam. Bahkan, sebagian bunyi-bunyian itu berasal dari benda-benda yang tak lazim.
Seperti botol kaca, drum plastik, galon air, kaleng dan lain sebagainya.
‘’Tongklek memang tak lepas dari musik patrol, atau musik penggugah sahur,’’ ujar Ali Imron, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Tuban.
Sebagian sejarawan mengaitkan seni tongklek dengan peninggalan Wali Songo untuk siar Islam. (ds)