TUBAN-Tradisi tahunan Siraman Waranggono di Pemandian Bektiharjo di Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur dikaitkan dengan kepercayaan penglaris.
Dipercaya, wajah waranggono yang dibasuh air dari sumber tersebut berkilauan seperti purnama saat mereka menari dan menembang di kalangan.
Iskandar, juru kunci Sendang Bektiharjo yang memimpin prosesi adat Siraman Waranggono, mengatakan, proses siraman harus benar-benar suci.
Peserta siraman maupun pemuka adat yang memandu harus bersih dari hadas atau najis besar.
''Kalau tidak, kita bisa kena balak (bencana),'' kata dia.
Kakek 2 putra dan 4 cucu itu mengaku sebelum memimpin prosesi adat tersebut, lebih dulu mandi jamas atau keramas.
Pantangan tersebut tidak hanya dipegang teguh para peserta siraman.
Pantangan juga berlaku bagi tujuh waranggono pembawa bunga.
Pernah saat menjelang proses siraman, tiga dari tujuh waranggono yang sebelumnya sudah diplot membawa bunga membatalkan tugas yang diembannya hanya karena menstruasi.
''Karena berhalangan, malam itu juga kita mencari gantinya,'' ujar Iskandar.
Tak hanya prosesinya. Waktu siraman pun selalu ditetapkan Rabu Pon, sesuai weton kesakralan punden setempat.
‘’Ini soal keyakinan saja. Boleh percaya, demikian juga sebaliknya. Semua kembali pada orangnya,’’ kata Lestari, waronggono tayub yang mengikuti proses ritual siraman.
Dia berharap, ritual siraman perlu dilestarikan agar bisa memberikan manfaat bagi para seniman tayub, khususnya waranggono.
Selain itu, ritual ini juga bisa dijadikan promosi kesenian tradisional Kabupaten Tuban.
Terlebih, lokasinya di tempat wisata.
Ashari, seniman tayub lain menambahkan, di balik prosesi siraman tersebut adalah Upaya menyatukan para seniman senior dan yunior untuk saling bisa berbagi pengamalan.
‘’Tradisi ritual siraman ini, kami percayai mampu untuk meningkatkan pamor waranggono. Terutama yang masih muda-muda agar punya nama di tengah-tengah masyarakat,’’ ujarnya.
Dengan begitu, tayub dan waronggono tetap lestari dan abadi sepanjang generasi. (*)