TUBAN-Di balik tradisi tahunan Siraman Waranggono, terselip pembekalan mental agar kelak para pekerja seni tayub tahan banting. Terutama para waranggono.
Prosesi budaya di Pemandian Bektiharjo, Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur tersebut diawali dengan kirab dari luar pemandian menuju sendang.
Paling depan cucuk lampah adalah pemandu adat.
Di belakangnya, mengiringi songsong, sesepuh, dan tujuh waranggono pembawa sesaji dalam kendil.
Di barisan paling belakang, waranggono, pramugari atau pengatur acara tayub, dan pimpinan karawitan.
Sesampai di sendang, para pemangku adat meletakkan sesaji dan berdoa di punden.
Prosesi berikutnya dilanjutkan dengan berjalan mengelilingi sendang.
Sambil mengelilingi sendang, seluruh peserta siraman yang telanjang kaki menaburkan bunga yang dibawa.
Setelah itu, peserta menuruni tangga batu menuju permukaan air.
Satu per satu mereka membasuh mukanya dengan tirto wening atau air bening dari mata air abadi Bektiharjo menggunakan jebor atau gayung dari batok kelapa.
Setelah seluruh pekerja seni langen tayub meminum dan membasuh mukanya dengan tirto wening dari sendang tersebut, para pemuka adat memimpin doa. (*)