TUBAN-Dunia pewayangan menganut sejumlah ritual yang pantang dilanggar dalang dan perajin wayang kulit.
Tanpa terkecuali dalang sekaligus perajin wayang kulit di Tuban, Jawa Timur.
Hal yang berhubungan dengan kekuatan kepercayaan tersebut disampaikan Susiyanto, dalang sekaligus pembuat wayang kulit di Desa Sawahan, Kecamatan Rengel.
Yanto, panggilan akrabnya, termasuk yang mengikuti ritual sebagai dalang sekaligus perajin wayang kulit.
Dalang 53 tahun itu mengungkapkan, semua tokoh wayang kulit bisa dibuat sembarang waktu. Mulai pagi, siang, sore, bahkan malam hari.
Menurut Yanto, hanya membuat tokoh Semar yang butuh waktu khusus.
Dalam kepercayaan pewayangan, kata dia, tokoh Semar harus dibuat pada malam hari. Persisnya mulai pukul 24.00 sampai subuh.
''Tokoh ini memang pengecualian,’’ tutur dia yang mengikuti ritual seputar dunia pewayangan dan pedalangan dari bapak dan kakeknya yang juga dalang.
Yanto mengaku butuh waktu lebih lama dalam membuat tokoh yang juga dikenal sebagai Batara Ismaya itu.
Kalau tokoh-tokoh lain sekitar sepuluh hari, Semar lebih lama lagi.
Yanto juga menyampaikan, dalam dunia pewayangan, pantang bagi dalang untuk menjual wayang buatannya.
Dia menyampaikan, hal itu merupakan salah satu angger-angger atau aturan dunia pedalangan—pewayangan.
‘’Kalau dilanggar, dikhawatirkan mendapat konsekuensi,’’ tutur pria yang menjadi dalang sejak usia sepuluh tahun itu.
Menurut Yanto, dalang yang bisa membuat wayang harus memilih. Mencari rezeki dari mendalang atau mengomersilkan wayang buatannya.
Kalau dijalani dua-duanya tidak mungkin bisa. ‘’Pasti ada yang ambruk,’’ tegasnya.
Bagaimana dengan dirinya? Yanto mengaku kalau dirinya hanya melayani jika seorang dalang ingin dibuatkan wayang.
Itu pun akadnya bukan jual-beli. Hanya pelayanan saja.
‘’Kalau saya ada waktu senggang, permintaan membuatkan wayang saya layani. Tidak mematok tarif. Sesuai kesadaran peminta layanan saja,’’ terangnya.
Yanto mengungkapkan, cukup banyak dalang sejawatnya yang membutuhkan wayang untuk pergelaran.
Sementara masyarakat awam pesan sebagai hiasan dinding.
Untuk menjamin kualitas wayang buatannya, pria yang dikenal sebagai dalang cilik yang kondang di Kecamatan Rengel pada era 1980-an itu membeli kulit kerbau dari Jogjakarta dan Surakarta.
Dia memilih kulit kerbau karena lebih awet dan tidak cepat rusak.
Terlebih, untuk membuat tokoh wayang satria atau raksasa yang lakonnya gepukan atau perang. (*)