Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Dalang Wayang Tengul di Tuban. Seniman Langka yang Sebagian Besar Tanggapannya Ruwatan

Dwi Setiyawan • Selasa, 20 Februari 2024 | 18:00 WIB

Panggung Widodo, satu dari dua dalang wayang tengul.
Panggung Widodo, satu dari dua dalang wayang tengul.


TUBAN-Dalang wayang tengul benar-benar langka di Tuban, Jawa Timur.

Sekarang ini, setidaknya hanya dua dalang wayang tengul yang masih eksis pada kesenian tradisional tersebut. Salah satunya Panggung Widodo, 66.

Di kalangan seniman tradisional, Panggung dijuluki dalang sejati.

Itu karena dia bisa menjadi dalang terkenal seperti sekarang tanpa melalui jenjang berguru atau sekolah.

Kemampuan mendalang Panggung dari otodidak.

‘’Saya bisa mendalang karena belajar sendiri,’’ kata dia.

Kemampuan seperti ini di kalangan dunia seniman tradisional termasuk langka.

Panggung dilahirkan di Dusun Tlogopule, Desa Prunggahan Kulon,  Kecamatan Semanding yang berjarak sekitar 5 kilometer (km) arah selatan Kota Tuban.

Panggung terlahir dari keluarga petani tulen. Buyut, kakek, hingga orang tuanya hidup dari bertani.

Tak ada darah seni sedikit pun mengalir di tubuh mereka.

Sejak kecil layaknya anak di desanya, Panggung suka bermain.

Satu hal yang membedakan Panggung kecil dengan teman sebayanya, yakni suka menonton wayang kulit, ketoprak, dan wayang orang.

Di mana pun ada pertunjukan wayang atau kesenian tradisional lain, dia tak pernah absen menonton.

Sambil menonton kesenian tersebut, Panggung merekam setiap alur cerita. Juga, dialognya.

Setiap selesai nonton wayang, dia kerap mendatangi dalangnya untuk menanyakan seputar lakon yang dibawakan.

Salah satu dalang yang sering dijadikan tempat bertanya adalah almarhum Ladiman asal Desa Dermawuharjo, Kecamatan Grabagan.

Tak hanya wayang, Panggung juga tak segan bertanya kepada pengatur laku kalau pementasan ketoprak yang diikuti tak dipahami.

Setiap kali habis nonton wayang, Panggung selalu mempraktikkan di rumah atau di sawah ketika menggembala kambing.

Sarana yang digunakan mendalang semua barang yang ditemui. Mulai dari akar pohon, kayu, hingga alat dapur.

Dari modal sering menonton, bertanya, dan praktik inilah akhirnya bapak tiga anak ini menjadi dalang tengul.

‘’Saya pentas pertama pada 1970 ketika baru berumur 13 tahun,’’ tutur Panggung mengenang acara sedekah bumi di desanya yang menjadi sarana mengekspresikan diri.

Lakon perdana yang dibawakan adalah Damar Wulan.

Sukses dengan pentas tersebut, suami Suntini ini terus kebanjiran order hingga sekarang.

Dalam pergulatan dengan wayang tengul, pada 1985 Panggung pernah mencoba manggung dengan wayang kulit. Hasilnya, dia mampu membawakan lakon dengan apik.

Hingga sekarang, sekali waktu Panggung melayani permintaan penanggap untuk membawakan wayang kulit.

Meski demikian, pria yang hanya lulus SD ini mengaku lebih pas memainkan wayang purwo.

Itu tidak hanya semata-mata karena dia suka dengan wayang tersebut, namun juga karena benar-benar punah. (*)

Editor : Amin Fauzie
#wayang tengul #kesenian tradisional #dalang