Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Potret Kecil Peradaban Negeri Tiongkok di Tuban

Dwi Setiyawan • Jumat, 9 Februari 2024 | 16:00 WIB

SATU-SATUNYA DI DUNIA: Patung kepiting di depan pintu gerbang utama TITD Kwan Sing Bio Tuban.
SATU-SATUNYA DI DUNIA: Patung kepiting di depan pintu gerbang utama TITD Kwan Sing Bio Tuban.


TUBAN-Menjelang peringatan tahun baru Imlek 2575 pada Minggu (10/2), jumlah umat maupun wisatawan yang datang ke Tempat Ibadah Tri Darma (TITD) Kwan Sing Bio Tuban terus meningkat.

Berbeda dengan umat yang datang untuk sembahyang dan menjalankan kegiatan religi lain, kunjungan wisatawan tersebut untuk menikmati suasana klenteng menghadap Laut Jawa tersebut.

Ya, klenteng Kwan Sing Bio Tuban menarik dikunjungi.

Klenteng di Jalan RE Martadina Tuban tersebut tidak ubahnya dengan potret kecil peradaban negeri Tiongkok.

Itu setidaknya terlihat dari ornamen dinding, atap, tiang, gapura, dan bagian bangunan lain.

Relief naga yang tak banyak dijumpai di klenteng lain, justru bertebaran di tempat ibadah Konghucu, Tao, dan Buddha ini.

Jumlahnya mengalahkan relief khas lainnya, seperti patkwa atau delapan diagram atau simbol yang merupakan dasar sistem kosmogoni dan falsafat Tiongkok kuno.

Klenteng ini juga didominasi warna merah menyala dan kuning.

Keunikan lainnya adalah bertebarannya lampion.

Daya tarik lain dari klenteng Kwan Sing Bio adalah patung raksasa kepiting di atas pintu gerbang utama.

Patung kepiting inilah yang menjadi lambang Kwan Sing Bio.

Di dunia, hanya klenteng Kwan Sing Tio yang menggunakan lambang kepiting.

Dua bangunan bercorak khas Tiongkok berikutnya yang menjadi magnet wisatawan adalah gedung empat lantai dan panggung di atas air.

Kedua bangunan tersebut berada di halaman tengah.

Selain bangunannya yang mampu menjadi potret kecil peradaban Tiongkok di tanah air, sejumlah kesenian khas Negeri Beruang juga ada di sini.

Seperti pertunjukan wayang potehi. Begitu juga barongsay dan liong.

‘’Kekhasan kelenteng Tuban ini tidak dimiliki klenteng lain. Banyak spot fotonya sangat istagramable,’’ tutur Sari, salah satu wisatawan dari Surabaya.

Bambang Djoko Santoso, tokoh umat tri darma di Tuban mengatakan, dipilihnya kepiting sebagai lambang kelenteng tidak terjadi secara kebetulan.

Dia menceritakan, pada era 1960-an, salah satu pengurus bernama Kwan Cong Han mendapat firasat ketika tidur di klenteng.

Dalam kondisi mimpi dan setengah terjaga, dia melihat seekor kepiting berukuran besar berjalan dari tambak di belakang klenteng menuju altar atau tempat sembahyangan.

‘’Sejak itu, pengurus memutuskan membangun patung raksasa kepiting di atas pintu gerbang utama sekaligus menjadikannya sebagai lambang,’’ ujarnya.

Dia mengakui hampir semua ornament bangunan di klenteng mirip dengan peradaban tempat sembahyang di China.

‘’Ini untuk menguatkan Kwan Sing Bio sebagai tempat religi dengan budaya China yang kuat,’’ ujarnya. (ds)

SUKSES : Tebing Kepuh bekas tambang yang disulap menjadi tempat wisata.
SUKSES : Tebing Kepuh bekas tambang yang disulap menjadi tempat wisata.
SEMANGAT : Abdi Nafi Senior Manajer PLN Nusantara Power UP Pacitan saat melakukan penanaman pohon.
SEMANGAT : Abdi Nafi Senior Manajer PLN Nusantara Power UP Pacitan saat melakukan penanaman pohon.
Editor : Amin Fauzie
#Patung kepiting #Kwan Sing Bio #peradaban negeri Tiongkok #tuban #klenteng