Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Populasi Kerbau di Tuban Bertahan di 3 Kecamatan. Memenuhi Permintaan Kudus yang Masyarakatnya Pantang Makan Daging Sapi

Aimatul Fauziyah • Kamis, 25 Januari 2024 | 17:00 WIB

Kawanan kerbau yang pemeliharaan dilepas di kawasan hutan di Desa Dingil, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Kawanan kerbau yang pemeliharaan dilepas di kawasan hutan di Desa Dingil, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.


TUBAN-Kerbau bukan termasuk ternak yang difavoritkan peternak maupun petani di Tuban, Jawa Timur.

Sebagian petani dan peternak di Tuban memelihara kerbau untuk memenuhi permintaan masyarakat Kudus, Jawa Tengah yang pantang makan daging sapi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Tuban, populasi kerbau pada 2023 hanya 704 ekor.

Bandingkan dengan sapi. Pada tahun yang sama jumlahnya mencapi 235.400 ekor.

‘’Populasi kerbau pada 2023 hanya 0,3 persen dari populasi sapi,” ujar statistisi muda BPS Tuban Ika Rahmawati.

Jumlah populasi kerbau pada 2023, kata dia, sudah meningkat 36 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya 452 ekor.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Tuban Eko Julianto mengatakan, masyarakat Tuban lebih tertarik memelihara sapi dibanding kerbau karena nilai jualnya.

Menurut dia, sapi lebih bernilai investasi yang tinggi untuk masa depan atau tabungan.

‘’Kalau misalkan butuh untuk  biaya anak, atau hajat lainnya bisa dengan menjual sapi,” ujarnya.

Berbeda dengan petani pemelihara kerbau yang memanfaatkan tenaganya
untuk membajak sawah.

‘’Setelah banyak petani yang beralih menggunakan tenaga mesin, tentu kerbau sudah tidak banyak digunakan,” ujarnya.

Eko menyampaikan, petani maupun pemelihara kerbau yang masih bertahan berada di wilayah Kecamatan Bangilan, Kenduruan, dan Jatirogo.

Salah satunya untuk memenuhi permintaan dari Jepara dan Kudus.

‘’Karena di sana ada kepercayaan yang dianut,” pungkasnya.

Kepercayaan dimaksud terkait pantangan bagi masyarakat Kudus mengonsumsi daging sapi.

Pantangan tersebut dikaitkan dengan larangan Sunan Kudus terhadap masyarakat setempat mengonsumsi daging sapi.

Tujuannya, ketika itu, untuk menghormati para pemeluk agama Hindu yang saat itu masih mayoritas.

Bagi umat Hindu, sapi diyakini sebagai jelmaan Dewa Syiwa. Karena itu, mereka menyucikan sapi.

Larangan Sunan Kudus tersebut mendapat simpati sebagian besar pemeluk Hindu. Sebagian di antara mereka akhirnya memeluk Islam.  

Itu yang menjadikan kerbau lebih memiliki nilai ekonomis di Kudus.

Terutama pada kurban, banyak tengkulak di Kudus yang membeli kerbau dalam jumlah banyak.

Kerbau yang dipelihara masyarakat Tuban juga memenuhi kebutuhan rumah makan sate dan gule kerbau di Jepara. (*)

astra motor
astra motor
BERI SAMBUTAN: Direktur PT Sumber Yalasamudra David Wijaya Tjoek (berdiri) saat menyambut kunjungan Siti Atiqoh Ganjar (tiga dari kanan) Rabu (24/1).
BERI SAMBUTAN: Direktur PT Sumber Yalasamudra David Wijaya Tjoek (berdiri) saat menyambut kunjungan Siti Atiqoh Ganjar (tiga dari kanan) Rabu (24/1).
SERAP ASPIRASI: Siti Atiqoh Ganjar (pegang mik) membaur saat kunjungan ke PT Sumber Yalasamudra di Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Rabu (24/1).
SERAP ASPIRASI: Siti Atiqoh Ganjar (pegang mik) membaur saat kunjungan ke PT Sumber Yalasamudra di Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Rabu (24/1).
POTENSI EKONOMI BARU: Pj Bupati Bangkalan Arief M. Edie berfoto bersama dengan pengurus BUMDes saat penanaman perdana rumput laut di pesisir Desa Kool, Kecamatan Klampis, kemarin.
POTENSI EKONOMI BARU: Pj Bupati Bangkalan Arief M. Edie berfoto bersama dengan pengurus BUMDes saat penanaman perdana rumput laut di pesisir Desa Kool, Kecamatan Klampis, kemarin.
Editor : Amin Fauzie
#pantang makan daging sapi #Populasi Kerbau #tuban #membajak sawah