TUBAN-Kerbau tidak termasuk hewan ternak yang difavoritkan petani di Tuban, Jawa Timur.
Alasan utamanya, nilai jualnya yang sangat rendah dibanding sapi.
Hanya petani di sebagai wilayah Kecamatan Montong dan Parengan yang memelihara binatang ini. Itu pun untuk membajak sawah.
Sulkan, salah satu peternak kerbau di Parengan mengatakan, dia dan petani lain di Parengan sengaja memelihara binatang ini untuk dimanfaatkan tenaganya membajak sawah.
Dia menerangkan, kerbau lebih mudah dipelihara karena mampu bertahan dalam kondisi kekurangan rumput dan hijau daun.
Petani ini mengakui, nilai jual kerbau di Tuban dan sekitarnya relatif murah dibanding sapi. Namun, bukan berarti kerbau tak laku.
Yasir, petani lain menambahkan, sejumlah petani di Parengan memelihara kerbau tidak hanya untuk membajak sawah, namun juga dijual.
Dia mengatakan, tengkulak kerbau dari Kudus, Jawa Tengah (Jateng) sering masuk Tuban.
Mereka membeli kerbau untuk memasok kebutuhan rumah makan sate dan gule kerbau di Kudus dan Jepara, Jateng.
Di zaman kewalian, Sunan Kudus melarang masyarakatnya mengonsumsi daging sapi.
Tujuannya, untuk menghormati para pemeluk agama Hindu yang saat itu masih mayoritas.
Bagi umat Hindu, sapi diyakini sebagai jelmaan Dewa Syiwa. Karena itu, mereka menyucikan sapi.
Larangan Sunan Kudus tersebut mendapat simpati sebagian besar pemeluk Hindu. Sebagian di antara mereka akhirnya memeluk Islam.
Itu yang menjadikan kerbau lebih memiliki nilai ekonomis di Kudus.
‘’Apalagi kalau kurban, banyak tengkulak di Kudus yang membeli kerbau dalam jumlah banyak,’’ ujar Yasir. (*)