TUBAN-Dulu, pembuatan batik gedog khas Tuban, Jawa Timur harus melalui lelaku spiritual. Karena itu, sejumlah motif batik gedog diyakini memiliki kekuatan magis.
Uswatun Hasanah, perajin sekaligus pelestari batik gedog mengungkapkan, di masa nenek dan buyutnya, prosesi ritual dijalani setiap kali membuat motif dan mewarnai batik gedog.
Prosesi tersebut dimulai dari puasa tujuh hari dan membaca mantra. Khususnya untuk membuat motif, mereka harus mencari wangsit atau petunjuk.
Begitu juga proses mewarnai yang menggunakan bahan alami, seperti daun dan kulit pohon.
''Kalau tidak tirakat dikhawatirkan diganggu makhluk halus. Sekarang, saya hanya baca mantra (doa) saja dan dalam kondisi suci,'' kata perempuan kelahiran 15 Oktober 1970 itu.
Karena perlu menjalani lelaku batin setiap tahapan proses pembuatannya, batik gedog diyakini memiliki kekuatan magis.
Dia mencontohkan motif slimun. Diyakini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Khususnya sakit panas. Itu karena warna birunya menggunakan daun tom atau daun nila.
‘’Begitu juga motif gringsing diyakini bisa mengobati sakit fisik dan psikis,’’ ujar peraih Upakarti itu.
Selain diyakini memiliki kekuatan menyembuhkan sakit, batik khas Tuban tersebut secara turun-temurun juga dipakai dalam persyaratan melengkapi prosesi budaya.
Motif kelopo sekantet biasanya disertakan dalam lamaran pengantin pria kepada wanita. Motif ini melambangkan senjata laki-laki.
Motif panji lori diyakini memilik daya magis untuk nelayan yang mencari ikan.
Motif kenongo uler diyakini bisa tolak-balak dan larwong untuk kesuburan padi.
Meski sekarang ini zaman modern, kata Uswatun, sebagian masyarakat masih meyakininya.
''Saya masih sering menerima pesanan motif tertentu untuk kelengkapan syarat lamaran dan lainnya,'' kata dia.
Uswatun menyampaikan, tidak dijalaninya seluruh lelaku spiritual warisan leluhurnya tersebut sekarang ini karena menyesuaikan bahan yang digunakan membatik.
Dia mengatakan, sekarang pewarna yang digunakan membatik tidak lagi daun dan kulit pohon. Namun, pewarna kimia.
Menurut dia, pewarna alami baru digunakan untuk pesanan khusus. Biasanya, pesanan tersebut untuk koleksi.
Selain menekuni bisnis batik tulis gedog, Uswatun juga menawarkan diri menjadi pengajar batik di sejumlah sekolah.
Untuk mengajarkan batik yang memiliki nama asli batik Lokcan yang ditularkan Laksamana Cheng Ho dari Cina tersebut, dia tak mau dibayar.
Bahkan, sebagian peralatan dan bahan batik yang digunakan praktik pengajaran tersebut miliknya.
Di kampung halamannya, Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, tak terhitung berapa banyak anak setempat yang menjadi murid batik Uswatun. (*)
Editor : Amin Fauzie