TUBAN- Bubur suro, kuliner ini tak asing bagi sebagian besar warga perkotaan Kabupaten Tuban, Jawa Timur selama puasa Ramadhan. Khususnya yang tinggal di perkampungan Arab, Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban.
Itu karena menjelang buka puasa, sekitar pukul 17.00, pengantre bubur suro beraroma seperti nasi kebuli atau nasi rempah-rempah khas Arab sudah berdatangan di Masjid Muhdlor Tuban di Jalan Pemuda, area perkampungan Arab di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban.
Pengantre bubur sura juga menyemut di Masjid Astana, kompleks makam Sunan Bonang Tuban, juga di kawasan perkampungan Arab, Kutorejo.
Di halaman dua masjid tersebut, bubur sura khusus dibuat dalam jumlah besar untuk takjil puasa Ramadhan.
Pengantre membawa beragam wadah. Mulai mangkok, kuali, ember, hingga timba kecil.
Mereka mengantre bubur sura tidak hanya untuk dikonsumsi bersama keluarga. Sebagian untuk takjil mushola dan masjid di sekitar Tuban.
Tradisi membuat bubur sura berlangsung setiap puasa Ramadhan. Hanya selama pandemi Covid-19 pada 2020 dan 2021, pembuatan bubur suro dihentikan sementara waktu.
Sejarah pembuatan bubur suro di halaman Masjid Muhdlor diungkapkan Habib Salim, salah satu tokoh keturunan Arab di Kutorejo pada 13 Juli 2013.
Dia mengatakan, di halaman Masjid Muhdlor, bubur pertama kali dibuat pada 1948.
Ulama yang kali pertama mempelopori adalah Habib Salim al Hamid, keturunan Hadramaut, salah satu daerah di Yaman.
Dia mengungkapkan, bubur tersebut dulunya dibuat untuk membantu warga kurang mampu di Tuban yang hendak berbuka puasa Ramadhan.
Namun, seiring berjalannya waktu, tak hanya yang duafa saja yang membutuhkan.
‘’Akhirnya dibuatlah bubur tersebut dalam jumlah besar. Tiap tahun bahan yang dimasak bertambah,’’ tuturnya.
Habib Salim mengatakan, di era 1948, dokter R. Koesma, tokoh yang namanya diabadikan untuk rumah sakit umum daerah (RSUD) Tuban, ikut mengelola bubur suro di Masjid Muhdlor.
Karena Masjid Muhdlor kewalahan melayani warga, perintis pembuatan bubur suro kala itu memutuskan untuk membuat bubur yang sama di halaman Masjid Astana.
Setelah Habib Salim al Hamid meninggal dunia, kata dia, pembiayaan pembuatan bubur suro dilanjutkan salah satu keponakannya.
Dia Habib Ali al Kaf. Begitu juga yang membuat bumbu hingga pengaduknya.
‘’Semua mempertahankan keturunan Hadramaut,’’ tandas pria berhidung mancung ini.
Hadramaut adalah leluhur warga keturunan Arab di Kutorejo.
Menurut sejarah, dari Hadramaut, mereka datang ke sejumlah daerah pesisir di tanah air, termasuk Tuban untuk berdagang dan siar agama Islam. (*)