TUBAN-Misteri keharusan menimba air Sumur Wali Lidan di Desa Kembangbilo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur dengan wadah dari lontar atau daun siwalan dan dadung atau serat kelapa sebagai tali dikaitkan dengan Syekh Maulana Abdullah Asyari.
Wali Allah tersebut lebih dikenal dengan nama Sunan Bejagung, salah satu wali penyebar agama Islam yang makamnya di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding.
Diwawancarai pada 15 Desember 2007, Karnaji, tokoh masyarakat Desa Kembangbilo mengungkapkan, menurut cerita tutur leluhurnya, Sumur Wali Lidan bertuah karena dibuat dengan karomah wali Sunan Bejagung.
‘’Konon menurut cerita para pendahulu, sumur ini adalah salah satu dari tujuh sumur yang dibuat Sunan Bejagung dalam semalam,’’ tuturnya.
Nama Sumur Wali Lidan juga merupakan gabungan sosok pembuatnya, Sunan Bejagung dan nama dukuhan atau dusun Lidan, tempat sumur tersebut berada.
Dia mengatakan, dulu, air Sumur Wali Lidan dikonsumsi warga sekitar untuk minum.
Sekarang, air dari sumur yang berusia ratusan tahun tersebut lebih banyak digunakan untuk sejumlah prosesi adat dan spiritual.
Salah satunya untuk membasahi tanah yang akan digali atau dibor untuk sumur. Hasilnya, diyakini air sumur menjadi tawar dan jernih.
Karnaji, termasuk salah satu warga yang setiap tahun mendapat tugas membersihkan sumur.
Menurut dia, misteri lain dari Sumur Wali Lidan adalah airnya bisa menyusut dengan sendirinya tanpa dipompa sebelum dikuras.
Sebelum dibersihkan, kata dia, didahului dengan selamatan yang dipimpin salah satu pemangku adat desa setempat.
‘’Begitu selamatan selesai, ketinggian air sumur menyusut. Setelah itu, sumur baru bisa dibersihkan dari akar pohon,’’ kata dia. (*)