Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Sumur Wali Lidan, Tuban. Airnya Baru Bisa Dikonsumsi Bila Ditimba dengan Wadah Lontar dan Tali Dadung

Dwi Setiyawan • Sabtu, 13 Januari 2024 | 16:00 WIB
Warga menimba di Sumur Wali Lidan di Desa Kembangbilo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur pada 15 Desember 2007.
Warga menimba di Sumur Wali Lidan di Desa Kembangbilo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur pada 15 Desember 2007.

TUBAN-Sumur Wali Lidan di Desa Kembangbilo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur menyimpan banyak misteri yang tidak bisa dirasionalkan.

Salah satu misteri tersebut adalah air dari sumur ini baru bisa dikonsumsi bila ditimba dengan wadah dari lontar atau daun siwalan dan dadung atau serat kelapa sebagai tali.

Dua bahan ini sudah paten dan tak bisa digantikan dengan bahan lain. Karena hanya peranti ini yang memungkinkan bisa dipakai, sejumlah warga yang tinggal di sekitar Sumur Wali Lidan menyimpan timba lontar dan tali dadung.

Wadah lontar dan tali dadung digunakan warga setempat sejak turun-temurun.

Membuat peranti menimba air dengan kedua bahan tersebut tidaklah sulit. Itu karena kedua bahan tersebut tersedia di sekitar. Pohon siwalan banyak tumbuh di hampir seluruh Desa Kembangbilo. Begitu juga dadung. Tali dari serat kelapa ini juga mudah didapatkan.
Tak jelas mengapa hanya dengan dua bahan tersebut yang bisa menghasilkan air berkualitas bagus kalau dipakai menimba. Sementara bahan lain tidak.

‘’Karena bahan tersebut secara turun-temurun digunakan, warga lain mengikutinya tanpa pernah tahu alasannya,’’  kata Mursidin, yang tinggal tak jauh dari sumur ketika diwawancarai pada 15 desember 2007.

Dia mengatakan, menimba air dari Sumur Wali Lidan pernah beberapa kali dilakukan sejumlah warga dari luar Kembangbilo karena ketidaktahuannya.

Dua di antaranya penjual minuman dan makanan keliling yang memerlukan air untuk mencuci peranti jualannya.

Saat mengambil, mereka menggunakan peranti yang dibawanya, timba plastik dan tampar plastik.

‘’Begitu diangkat, airnya seperti minyak. Warnanya keruh dan berbau tak sedap,’’ kata Mursidin.

Setelah Mursidin meminjami wadah lontar dan tali dadung, air yang dihasilkan dari menimba menjadi jernih dan tak berbau.

Warga lainnya menambahkan, timba lontar dan tali dadung tak boleh kecampuran bahan lain.

Pernah seorang warga menyambung dadungnya dengan tampar plastik karena kurang panjang. Tampar penyambung tersebut panjangnya tak lebih dari satu meter.

Namun, air yang didapat juga tidak dapat dikonsumsi karena keruh, berminyak, dan berbau.

Tak hanya tali dadung. Wadah daun lontar juga tak boleh kecampuran dengah bahan lain, termasuk plastik dan kawat untuk mengikat dan merekatkan.

Setelah air yang ditimba sudah di luar sumur, barulah bisa ditempatkan pada bahan lain. Entah, apa hubungannya wadah lontar dan dadung dengan kualitas air.

‘’Rasanya, sulit merasionalkan dua bahan tersebut dengan air yang ditimba,’’ ujar warga lain. (*)

Editor : Amin Fauzie
#tali dadung #Desa Kembangbilo Kecamatan Tuban Kabupaten Tuban #timba #Sumur Wali Lidan #misteri #lontar