Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Kembangbilo, Tuban, Mengubur Masa Kelamnya sebagai ’Kampung Jagal’ Sebelum Era 1990-an

Dwi Setiyawan • Selasa, 9 Januari 2024 | 22:00 WIB

Jalan Desa Kembangbilo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Jalan Desa Kembangbilo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.


TUBAN-Sebelum era 1990-an, Desa Kembangbilo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur dikenal sebagai ‘’kampung jagal’’. Itu terkait tingginya intensitas pembunuhan di kampung setempat.

Sekarang, Kembangbilo mampu mengubur dalam-dalam masa kelamnya.

‘’Saat ini, nyaris tidak pernah terjadi pembunuhan,’’ ujar Rahman Zaeni Abidin, salah satu tokoh masyarakat setempat yang diwawancarai Minggu (7/1).

Rahman mengatakan, tingginya kasus pembunuhan di Kembangbilo sebelum era 1990-an karena dipicu banyak hal. Mulai rendahnya tingkat pendidikan mayoritas masyarakatnya, kemiskinan, hingga keterbelakangan.

Dia mencontohkan pada 1987, ketika dirinya lulus SD. Tak banyak teman satu sekolahnya yang melanjutkan pendidikan SMP.

‘’Sebelum 1990-an, lulusan SMA di Kembangbilo masih sangat jarang,’’ ujarnya.

Rahman juga mengungkapkan, meski desanya hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari pusat kota kabupaten, listrik PLN baru masuk Kembangbilo pada 1991.

Itu pun di tahun tersebut belum semua rumah teraliri listrik karena keterbatasan tiang PLN.

Dia mengatakan, sekarang masyarakat Kembangbilo tidak lagi miskin dan terbelakang seiring terbukanya interaksi dengan masyarakat luar. Terlebih, saat ini desanya dilalui ring road atau jalan lingkar selatan.

‘’Untuk pendidikan dasar pun banyak warga yang menyekolahkan anaknya di kota dengan mempertimbangkan kualitas pendidikan,’’ ujar lulusan SMAN 2 Tuban itu.

Tidak hanya pendidikan formal, pendidikan agama di kampungnya pun berkembang pesat.

Banyaknya generasi muda yang berpendidikan inilah yang mengubah tatanan kehidupan baru di Kembangbilo.

Terlebih, beberapa generasi tua yang dikenal temperamental hanya tersisa beberapa orang saja. Mereka sudah berusia udzur.

Sebelum era 1990-an, Rahman masih mengingat peristiwa berdarah di kampungnya.

Termasuk terbunuhnya kepala desa Sunggar pada 31 Desember 1979 saat dirinya berusia empat tahun.

‘’Saat itu Kembangbilo heboh,’’ kenang karyawan PT Swabina Gatra Tuban itu.

Kepala Desa Kembangbilo pada 1998-2007, Kusni membenarkan hilangnya karakter membunuh sebagian warga desanya terjadi pada era 1990-an setelah pendidikan generasi mudanya meningkat.

Pendidikan minimal SLTA pada 2007, menurut dia, mendominasi dengan jumlah total 365 orang.

‘’Bahkan, jumlah sarjananya saja 38 orang,’’ terang dia. Selain tingginya tingkat pendidikan, kata Kusni, warga sekarang banyak berinteraksi dengan masyarakat luar.

Bahkan, masyarakat pendatang juga banyak yang tinggal di desanya.

Selain meningkatnya kualitas pendidikan dan ekonomi warga, kata dia, pembinaan aparat kepolisian dan perangkat desa intensif dilakukan.

Salah satunya, dengan menerapkan sanksi kerja bakti membersihkan parit desa selama sehari bagi warga yang melakukan penganiayaan atau berkelahi.

‘’Hukuman itulah yang membuat mereka segan mengulangi,’’ kata dia ketika diwawancarai pada 23 Maret 2007. (*)

Editor : Amin Fauzie
#kembangbilo #Desa Kembangbilo Kecamatan Tuban Kabupaten Tuban #pembunuhan #Kampung Jagal #era 1990-an