TUBAN-Jarangnya penanggap kesenian tradisional sandur di Tuban, Jawa Timur menjadikan tak banyak grup sandur yang bertahan.
Salah satu grup kesenian yang masih eksis melestarikan kesenian tradisional ini dari kepunahan adalah Waseso Utomo.
Grup ini ditemui tampil di lapangan Kiring, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban pada 16 Maret 2014.
Arena pertunjukan grup ini hanya sepetak bujur sangkar dengan masing-masing sisi sekitar 4 meter.
Keliling arena ini dipasang tali rafia setinggi kurang lebih 1,5 meter. Masing-masing sisi tali tergantung janur agar tali pembatas terlihat lebih jelas.
Di timur dan barat tempat pertunjukan ini berdiri tegak dua bambu. Ketinggiannya sekitar 15 meter.
Ujung kedua bambu ini dihubungkan dengan tampar yang kedua pangkalnya tergantung kupat dan lepet.
Persis di tengah arena menancap gagar mayang atau rontek dengan bendera kertas warna hijau, kuning, merah dan putih.
Di tengah arena inilah sekitar 20 panjak atau penabuh gamelan sandur berikut krunya berkumpul.
Hanya sebagian yang memainkan peranti alat musik tradisional khas sandur, yakni gong bumbung dan kendang. Selebihnya berperan melantunkan tembang khas sandur.
Sekitar pukul 20.30, empat anak laki-laki yang berbusana penari plus berkaca mata yang memainkan tokoh Balong, Pethak, Tangsli, dan Cawik (tokoh perempuan) masuk.
Pertunjukan tersebut sarat makna filosofis.
Pakit, salah satu pendiri grup kesenian sandur Waseso Utomo yang diwawancarai di arena pertunjukan pada 16 Maret 2014 mengatakan, grup sandurnya lahir sekitar September 2013.
Menurut dia, kelahiran grup kesenian tersebut dilatarbelakangi keprihatinan puluhan seniman sandur di Dusun Kiring, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban.
Mereka adalah mantan panjak dan pemain grup sandur Suro Utomo di dusun setempat.
Sekitar 1994, grup tersebut bubar setelah Kasmat, pendiri sekaligus pemimpinnya meninggal.
‘’Karena merasa terpanggil untuk menghidupkan, kami sepakat mendirikan grup sandur,’’ tuturnya.
Sebenarnya, Pakit hanyalah penggemar kesenian tradisional tersebut. Dia yang juga merasa ikut kehilangan, akhirnya membantu para seniman sandur yang ingin kembali eksis.
Mereka inilah yang kemudian urunan membeli busana pemain. Sisanya, dibelikan perangkat yang murah, seperti jaran kepang dan perangkat tabuhan.
Paskit menuturkan, honor yang diterima panjak dan pemain paling banyak Rp 100 ribu.
‘’Itu sudah mending. Biasanya, panjak dan pemain hanya disuguhan makan,’’ tuturnya.
Pakit memastikan orientasi pendirian grup Waseso Utomo bukan semata-mata untuk mencari penghidupan dari sandur.
Karena itulah, berapa pun pemberian dari penanggap, diterimanya.
Begitu teguhnya kru sandur membesarkan grupnya, kurang dari setahun Waseso Utomo sudah mampu melengkapi perantinya dari hasil menyisihkan uang dari hasil tanggapan.
‘’Kami diberi kesempatan tampil dan eksis saja sudah terima kasih,’’ kata pria lulusan SMP itu. (*)
Editor : Amin Fauzie