TUBAN- Kemunculan Gua Ngerong di Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur dikaitkan dengan legenda Kadipaten Gumenggeng.
Konon, keberadaan Kadipaten Gumenggeng jauh sebelum berdiri Kadipaten Tuban.
Petilasan pemerintahan ini diperkirakan di Dusun Gumeng, Desa Banjaragung, Kecamatan Rengel, utara Gua Ngerong dan berjarak sekitar tujuh kilometer.
Dari adipati yang memerintah di Kadipaten Gumenggeng inilah lahir bupati Tuban pertama Dandang Wacono.
Pada buku Legenda Gua Ngerong karya Edy Santosa, ditulis rakyat Kadipaten Gumenggeng hidup makmur.
Itu karena Raden Arya Bangah yang memimpin pemerintahan tersebut sangat memerhatikan rakyatnya.
Semua persoalan yang dihadapi rakyat Gumenggeng selalu diatasi adipatinya yang bijak itu.
Suatu ketika, muncul persoalan besar yang dihadapi rakyat Gumenggeng yang dipicu dari kemarau panjang.
Rakyat kesulitan mendapatkan air. Sungai, sumur, dan sumber-sumber air kering kerontang.
Hampir semua tanaman layu dan mati. Sawah dan ladang juga tak bisa ditanami.
Untuk mendapatkan air, rakyat Gumenggeng harus mengambil di Bengawan Solo yang jaraknya cukup jauh.
Mengetahui penderitaan rakyatnya, Raden Arya Bangah sedih. Dia pun mencari jalan keluar.
Pada suatu hari, seluruh penggawa kadipaten dikumpulkan. Mereka diajak membicarakan masalah kesulitan air yang dihadapi rakyatnya.
Salah satu penggawa yang dimintai masukan adalah penasihatnya, Kiai Jalak Ijo.
Kiai Jalak Ijo pun memberikan solusi dengan meminta bantuan kepada seorang pertapa bernama Empu Supo.
Setelah Raden Arya Bangah setuju, Kiai Jalak Ijo meninggalkan kadipaten yang diiringi dengan beberapa prajurit menuju tempat pertapaan.
Setelah menyampaikan tujuannya, Empu Supo pun menyanggupi membantu.
Empu Supo, Kiai Jalak Ijo, dan prajurit yang mengawal kemudian berangkat mencari sumber air.
Setelah berjalan berkilo-kilo meter, sampailah mereka di sebuah gua di lereng Gunung Rengel.
Mereka lalu istirahat di dalam gua untuk menghilangkan lelah. Pada saat istirahat di dalam gua itu, Empu Supo menusukkan kerisnya pada celah batu di dinding gua.
Dari lubang tusukan keris inilah, tiba-tiba memancarkan air. Mulanya kecil. Lama-lama semakin membesar.
Kiai Jalak Ijo dan para prajuritnya pun bersorak kegirangan.
Beberapa saat kemudian pancaran air tersebut berhenti.
Bersamaan itu, sebuah keajaiban terjadi. Tiba-tiba dari dalam lubang yang memancarkan air tersebut keluar banyak ikannya. Juga beberapa kura-kura berukuran kecil.
Setelah ikan dan kura-kura itu keluar, air kembali memancar dan mengalir keluar gua.
Dari aliran inilah akhirnya terbentuk sebuah sungai.
Penduduk yang mengetahui ada sungai yang baru mengalir, segera membuat saluran ke sawah dan ladangnya.
Sumur-sumur dan sungai-sungai pun kembali dipenuhi air.
Salah seorang penduduk yang bernama Kembang Jaya yang ingin mengetahui asal sungai baru itu menyusuri hulu aliran sungai tersebut.
Sampailah dia di gua. Dia pun bertemu dengan Empu Supo, Kiai Jalak Ijo, dan prajurit.
Karena gua tersebut tempat ikan dan kura-kura ngerong atau masuk lubang, Empu Supo memberi nama Gua Ngerong.
Sebelum pergi, Empu Supo memberi beberapa pesan. Di antaranya, tidak boleh mengambil ikan dan kura-kura di dalam Gua Ngerong.
Dua binatang penunggu gua tersebut juga harus dirawat dengan baik. (*)
Editor : Amin Fauzie