RADARBONANG - Awal mula sejarah tradisi kupatan menarik untuk didalami. Tradisi kupatan adalah tradisi Islam populer di Indonesia yang diperkenalkan pada masa Kesultanan Demak pada awal abad ke-16 masehi.
Tradisi ini tetap dijalankan hingga kini dan menjadi kearifan lokal Nusantara, khususnya di Pulau Jawa, pada bulan Syawal.
Tradisi kupatan disebut-sebut telah berlangsung sejak zaman Kesultanan Demak ketika memperluas pengaruhnya ke daerah barat pada 1524.
Sultan Cirebon, Sunan Gunung Jati, yang dibantu pasukan Demak menduduki pelabuhan Banten dan mendirikan Kesultanan Banten. Untuk meraih berkah pada bulan suci Ramadan, ketupat pun dibagi-bagikan.
Kyai Abdul Masyir atau biasa dipanggil dengan Mbah Mesir, pengasuh pondok pesantren Babul Ulum, melestarikan tradisi Hari Raya Kupatan.
Mbah Mesir melihat masyarakat Durenan setelah melaksanakan Hari Raya Idul Fitri tidak melakukan puasa Sunnah Syawal, padahal puasa Syawal pahalanya sangat banyak dan bisa menghapus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang.
Mbah Mesir membuat gagasan baru dengan memadukan budaya dan syari’at yaitu puasa bulan Syawal selama 6 hari dan dilanjutkan dengan slametan kupat (tasyakuran ketupat) di pondok pesantrennya, yang kemudian menyebar ke masjid-masjid dan surau-surau hingga ke desa-desa sekitar Durenan.
Waktu perayaan kupatan biasanya dilakukan seminggu setelah hari raya Idul Fitri, yakni pada tanggal 8 Syawal.
Masyarakat desa biasanya berkumpul di suatu tempat seperti masjid atau musholla untuk melakukan selamatan, dan seluruh warga membawa hidangan yang didominasi dengan ketupat.
Di Desa Sendang, tradisi kupatan dilaksanakan pada pagi hari, diawali dengan tanda dipukulnya beduk masjid. Masyarakat berbondong-bondong ke masjid dan mushola-mushola terdekat membawa ketupat dan lepet lengkap dengan sayur dan lauknya.
Setelah membaca tahlil dan doa, ketupat dan lepet tersebut dimakan secara bersama-sama.
Tradisi Kupatan memiliki makna filosofis yang mendalam. Kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari kalimat ‘ngaku lepat’ yang berarti ‘mengakui kesalahan’.
Oleh karena itu, saling berbagi dan memberi kupat di hari raya Idul Fitri adalah simbol atas pengakuan kesalahan dan kekurangan diri masing-masing terhadap Allah SWT, keluarga, dan terhadap sesama.
Ketupat juga merupakan simbol permohonan ampun dan maaf sehingga menjadi bagian dari hari raya lebaran yang identik dengan penyucian diri dan momen saling memaafkan antara sesama.
Tradisi kupatan juga memiliki makna filosofis pada pembuatan ketupatnya.
Ketupat terbuat dari beras, kemudian dibungkus dengan daun kelapa muda yang dianyam atau yang biasa disebut janur.
Kata janur sendiri merupakan akronim dari bahasa Arab yang berarti telah datang seberkas cahaya terang.
Oleh karena itu, penggunaan janur sebagai pembungkus ketupat memiliki makna yang dalam mengenai harapan manusia untuk mendapatkan petunjuk Allah menuju jalan yang benar.
Di balik tradisi lebaran ketupat, terdapat nilai-nilai spiritual yang mendalam. Perayaan ini menjadi simbol penyempurnaan ibadah puasa, baik puasa Ramadhan maupun puasa Syawal.
Melalui tradisi ini, masyarakat diajarkan untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah SWT dan senantiasa mengingat pentingnya menjaga kesucian hati setelah menjalankan rangkaian ibadah puasa.
Penting untuk melestarikan kearifan lokal ini agar generasi mendatang masih dapat merasakannya.
Bentuk melestarikannya adalah dengan tetap melanjutkan tradisi kupatan di masa sekarang serta menurunkan nilai-nilai filosofis tradisi kupatan kepada masyarakat yang lebih muda.
Hal ini penting agar tradisi kupatan tidak hanya dikenal sebagai perayaan semata, tetapi juga sebagai warisan Islam Nusantara yang sarat dengan makna dan nilai-nilai yang mendalam. (*)