TUBAN-Tradisi Jawa, tedak siten atau turun tanah bagi bayi berusia tujuh bulan mulai ditinggalkan sebagian besar masyarakat Tuban, Jawa Timur.
Hanya segelintir orang yang masih mempertahankan tradisi ini. Salah satunya keluarga Wiwik Indriyani, warga Jalan Sunan Kalijaga. Keluarga ini menggelar tedak siten untuk cucunya berinisial El pada 5 Juni 2011.
Prosesi tedak siten yang bernuansa budaya Islam dan Jawa diawali dengan lantunan sholawat dari grup rebana Assakinah.
Begitu pujian sekaligus doa untuk Rasulullah tersebut berakhir, ujung rambut bayi El digunting.
Eyang putrinya, Wiwik Indrayani yang melakukan prosesi pengguntingan tersebut.
Prosesi ini bermakna membuang sial sang bayi.
Setelah dipotong rambutnya, bayi ini dimasukkan dalam bejana berisi rendaman air kembang setaman dan uang receh.
Air rendaman kembang setaman inilah yang dipakai untuk memandikan si upik tersebut.
Kembang setaman atau dikenal kembang tujuh macam tersebut selama ini tidak hanya dipakai untuk memandikan bayi dalam prosesi tedak siten, namun juga siraman kehamilan tujuh bulan dan calon pengantin.
Dalam prosesi siraman ini, orang tua berharap agar si bayi dibersihkan dari aura yang membawa kesialan dan menarik aura keberuntungan.
Sebuah prosesi yang melambangkan kelak kalau dewasa bayi ini ombo jangkahe (luas wawasannya) diwujudkan dengan menapaki tujuh jadah atau ketan warna-warni.
Jadah paling ujung berwarna putih. Persis di atas jadah putih inilah berdiri tangga dari tebu.
Tangga ini memiliki tujuh anak tangga. Angka tujuh kembali menjadi angka sakral dalam prosesi ini.
Titik Marhati, pemandu sekaligus pembaca acara tedah siten dalam prolognya mengatakan, makna tujuh atau pitu dikaitkan dengan pitulungan.
‘’Diharapkan kelak, Nanda pikantuk pitulungan saking Gusti Allah,’’ kata dia mengomentari ketika kaki bayi ini menginjak satu per satu anak tangga.
Di akhir acara, bayi El diturunkan ke lantai dan kemudian dimasukkan dalam kurungan ayam yang di dalamnya ditempatkan sejumlah benda-benda.
Benda tersebut, antara lain, buku, Juz Amma, sisir, bedak, kaca mata, gelang, dan uang.
Proses pengurungan ini bermakna masa tirakat atau pendidikan pengendalian diri.
Selama kurang lebih lima menit berada di dalam kurungan, El menangis.
Meski bapaknya menyuapi dot, tangisnya tak juga mereda. Ketika tangannya menggapai-gapai mengenai uang, maka bayi ini dianggap memilih uang.
Pembawa acara pun meramesi, kelak dewasa hidup El berkaitan dengan sektor keuangan.
Bersamaan ube rambe tedak siten dibawa masuk rumah, tuan rumah pembagian rontek atau bendera kertas warna-warni kepada undangan.
Sebagian pangkal gulungan bendera kecil ini berisi uang kertas. Undangan yang beruntung, bisa mendapatkan uang tunai dalam suvenir bendera tersebut.
Setelah rangkaian adat Jawa dilalui, proses tersebut ditutup dengan proses berjanjen yang merupakan bagian dari budaya islami.
Sebelum undangan pulang, tuan rumah membagikan tumpeng berisi ingkung (ayam panggang utuh), jajan pasar, polo pendem, dan bubur sengkolo kepada anak yatim yang diundang.
Wiwik Indriyani mengatakan, dalam prosesi tedak siten tersebut, keluarganya ingin meneruskan budaya leluhur yang mulai luntur.
‘’Selama ini secara turun-temurun keluarga kami selalu menggunakan prosesi ini,’’ tuturnya. (*)