Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Budaya Adus Dawet, Prosesi Meminta Hujan di Merakurak, Tuban. Diajarkan Prajurit Majapahit Ratusan Tahun Silam

Dwi Setiyawan • Jumat, 22 Desember 2023 | 20:00 WIB

Sembilan penari memperagakan adus dawet, prosesi adat minta hujan dalam Festival Karya Tari se-Jatim di Taman Krida Budaya Malang pada 29 Mei 2019.
Sembilan penari memperagakan adus dawet, prosesi adat minta hujan dalam Festival Karya Tari se-Jatim di Taman Krida Budaya Malang pada 29 Mei 2019.


TUBAN-Adus atau mandi dawet adalah salah satu upacara adat di Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak untuk meminta hujan. Tradisi ini mulai langka.

Untuk mengembalikannya, seniman Tuban mencoba mengangkatnya melalui sebuah karya tari dalam Festival Karya Tari se Jatim di Taman Krida Budaya Malang pada 29 Mei 2012.

 ‘’Ini khasanah budaya bangsa yang tidak boleh hilang begitu saja,’’ kata
Sutarji, kepala Seksi Seni Budaya Dinas Perekonomian dan Pariwisata Tuban ketika itu menyampaikan mimpi besarnya mengangkat kembali tradisi turun-temurun adus dawet yang kini sudah mulai punah.

Keprihatinan Sutarji inilah yang kemudian mengilhaminya untuk menjadikan adus dawet menjadi sebuah karya tari.

Tari inilah yang dipentaskan Festival Karya Tari se-Jatim di Taman Krida Budaya Malang pada 29 Mei 2012.

Sebelum mengangkat tradisi berusia ratusan tahun tersebut, tim seksi seni budaya menginventarisasi dan menggali data.

Setelah itu, tim turun untuk mewawancarai sejumlah sesepuh desa setempat. Salah satunya, Kamari yang semasa kecil dan mudanya kerap mengikuti upacara adat tersebut.

Sumber berikutnya yang digali tim adalah Kantor, juri kunci makam Mbah Joko Setinggar.

Makam punden mantan prajurit Tuban di masa Majapahit tersebut adalah asal muasal munculnya tradisi tersebut.

Dari penggalian tim terungkap bahwa tradisi adus dawet dilaksanakan warga Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak setiap bulan Mulud.

Persisnya, pada masa kacang kapitan atau tanaman kacang di tegalan berusia lebih dari dua minggu.

Tidak jelas apa yang menjadi alasan dipilihnya waktu tersebut.

‘’Kata Kantor, kalau tidak digelar barikan atau upacara adat khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan,’’ kata Sutarji.

Menurut sesepuh desa tersebut, ritual adus dawet muncul ketika warga putus asa karena kekeringan yang melanda desanya.

Kekeringan tersebut terjadi setelah Mbah Joko Setinggar meninggal.

Karena itulah, mereka beranggapan bahwa Mbah Setinggar yang selama ini mengatasi masalah kekeringan.

Untuk meminta roh suci Mbah Setinggar membantu meminta kepada Tuhan, warga kemudian menggelar prosesi adus dawet.

Minuman dari tepung sagu atau tepung beras dan diberi kuah santan serta gula Jawa tersebut adalah kesukaan Mbak Setinggar.

Setelah melalui prosesi doa, dawet dihambur-hamburkan ke udara dan mengenai kepala orang-orang yang mengikuti prosesi tersebut.

Dipercaya, semakin banyak dawet yang dihambur-hamburkan, hujan yang turun makin deras.

Di masa lalu, upacara adat tersebut mampu mendatangkan hujan keesokan harinya.

Sejak itulah, adus dawet dipercaya dan menjadi tradisi turun-temurun.

Untuk lebih mendekatkan emosi penciptaan tari tersebut, seksi seni budaya menunjuk Ita Hariyanti, guru SDN yang tinggal di Desa Sambonggede, Kecamatan Merakurak untuk menjadi penata tarinya.

Desa tempat tinggal guru tari ini bersebelahan dengan Tuwiri Wetan.

Tak cukup itu. Sembilan penarinya juga dipilih dari sanggar tari Akas dari desa setempat.

‘’Kalau yang mengolah dan menari memiliki ikatan emosional yang kuat, maka mereka lebih menjiwai,’’ kata Tarji. (*)

Editor : Amin Fauzie
#tradisi #ritual #Desa Tuwiri Wetan Kecamatan Merakurak #Mbah Joko Setinggar #Adus Dawet #seniman #kekeringan #upacara adat #meminta hujan #tuban #budaya bangsa